Pages

Senin, 25 Juli 2016

Sebuah Sore

   Mata kami ditarik menutup oleh lembutnya angin lembah, dan rerumputan telah menjadi pembaringan yang mengikat punggung macam akar pada batangnya. Sebelum mataku menutup seluruhnya, aku sempatkan menoleh ke kiri, demi mengintip parasnya yang tengah terpejam menikmati seluruh baluran alam. Sepoi angin sore, terpaan mentari yang teduh disaring awan, dan wangi rerumputan yang seakan selalu lembab, selalu pas rimbunnya itu. Setelah menemukan senyum di wajahnya, aku kembalikan hadap wajahku ke langit, dan senyumnya menular ke bibirku. 
   Kupejamkan sepenuhnya mata, kunikmati semua rasa dalam hening. Aku bahagia, sungguh, atas semua kejadian di lembah kasih sore ini. Tapi dasar manusia, berpikir buruk adalah ciri kita yang paling khas. Di tengah keindahan pun aku sempilkan pikiran buruk akan masa depan. Bagaimana jika semua berubah? Bagaimana jika aku tak bisa menjaganya? Bagaimana bila langit tak melulu cerah? Atau mungkin saja semua ini maya!

   Sebuah cubitan terasa di lengan kiriku. Segera aku menoleh kearahnya lalu membuka mata, mendapatkan mata bulatnya telah melihat tajam ke dalam mataku dan aku terperangkap dalam sorot itu. Sorot dengan alisnya yang melengkung dan bulu matanya yang melentik. Matanya berbicara banyak bahasa, tapi aku tak mampu menerjemahkan beragam sastra matanya. Hanya dari cubitannya aku tahu, bahwa ia membaca pikiran burukku. Dan sorotnya adalah peringatan bahwa jika aku terus berpikir buruk maka cubitan ini akan semakin kuat. Aku isyaratkan menyerah melalui senyum, dan ia menerimanya. Setelah Ia lepaskan cubitan dari lenganku, telunjuknya lentik menunjuk ke hamparan langit biru. 
   "Aku ingin perlihatkan sesuatu,...", katanya lucu, "...lihatlah",

Ia menarik telunjuknya dari satu sisi langit yang cerah, dari siluet punggungan gunung-gunung yang menjadi batas jarak pandang mata, menuju ke tengah-tengah samudera langit hingga tepat ke atas wajahku. Aku memperhatikan dengan sungguh-sungguh, bahwa tarikan telunjuknya menciptakan segaris awan lurus yang bergumpal-gumpal, seperti awan yang tercipta ketika sebuah roket melintasi langit. Tetapi ini bukan karena roket, ini karena telunjuknya. Dan awannya bukanlah awan biasa melainkan awan yang ia buatkan untukku. 

   Aku memaku pandangan ke langit demi menatap sebuah keajaiban. Tentu semua otot wajah membentuk senyum girang layaknya anak yang melihat pelangi pertama kali. Aku tertawa sembari menoleh ke arahnya ingin mengabarkan kegembiraan. Ia telah hilang. Yang tersisa hanya sepoi angin pada suatu sore di lembah, beserta segaris-panjang awan yang membelah biru langit cerah.





Biru, 26 Jul '16

4 komentar: