Pages

Sabtu, 31 Desember 2016

Burung Bangau Sarmin

Namanya Sarmin.
Ia sudah resmi menjadi orang gila di kampung daun sejak 2005. Sarmin, yang dulu dikenal sebagai pemuda tampan semi berandalan, sekarang hilir mudik dari kidul ke kaler kampung sembari bermonolog ria sepanjang jalan, diselingi oleh cengir yang kadang berubah menjadi tawa terbahak-bahak, atau cekikikan, yang mana dirasa pas dengan suasana hatinya saja. Warga kampung daun sudah mafhum dengan Sarmin, meski kadang ia berkeliling kampung dengan hanya bercelana tanpa baju, sering juga kebalikannya. Meski begitu, Sarmin adalah orang gila yang santun. Selalu salim kepada yang lebih tua dan  menyapa ramah mereka yang lebih muda, tetap sambil bermonolog tentunya. Sudah seperti itulah Sarmin sejak ia masih waras pun. Sarmin disayangi warga kampung. Makanya, walau gila, Sarmin tidak kurang makanan dan pakaian, apalagi kurang hiburan. Sarmin, dalam beberapa hal, malah lebih kaya dari pada sarjana muda yang pengangguran. Yang miskin hanyalah jalan nalarnya saja.

Sarmin tiap hari selalu tampil berbeda. Baik rute perjalanan, baju atau celana yang ia kenakan, tema monolog, atau pun tinggi rendah nada cekikikannya. Tapi ada satu yang tidak berubah dari Sarmin. Ia selalu terlihat memegang beberapa carik kertas yang telah dicabik membentuk persegi sama sisi. Kertas-kertas yang berasal dari koran bekas, ataupun sisa-sisa selebaran kampanye yang terbuang, sepertinya telah dipungut oleh Sarmin saban hari. Petang hingga malam, Sarmin akan terlihat duduk anteng di sudut-sudut desa, melipat-lipat kertas bekas tadi menjadi seekor burung kecil. Burung bangau, dengan ekor yang lurus dan sayap yang terbentang.

Tentu saja para warga pusing, ibu-ibu bergosip, bapak-bapak berteori, dan anak-anak bernyanyi mengejek. Ibu-ibu bilang, Sarmin sebenarnya pura-pura gila, cuma akting agar dapat makan dan baju gratis tiap hari. Bapak-bapak berteori, Sarmin gila karena ngelmu, dan burung bangau kertas itu adalah bentuk sesembahan, syarat, sajen, tetek bengek dunia ilmu hitam. Dan anak-anak tetap berlarian dalam tawa sambil bernyanyi "burung Sarmin gila, gila burung Sarmin, kalau tidak gila, bukan burung Sarmin".

Sarmin memang gila, itu otentik. Semua dokter dan dukun dalam radius 100 km dari kampung daun telah sepakat dalam hal ini. Dan Sarmin tidak ngelmu apapun, selain sebatas ilmu sosial sampai SMA kelas 2. Dan masalah burung Sarmin, tentu saja burungnya gila, karena kalau bukan, ya pasti bukan burung Sarmin.  
Kertas-kertas yang telah dilipatnya dikumpulkan di dalam kantong plastik besar berwarna hitam yang telah cabik sana dan sini, bersatu dengan makanan, baju, dan sampah. Itulah harta Sarmin di dunia ini. Meski alasan Sarmin menekuni seni origami itu masih menjadi misteri, toh Sarmin tetap warga kampung daun. Ia tetap memberi warna kepada suasana kampung yang semakin moderen itu. 

Entah siapa yang memulai, kelakuan Sarmin mulai direkam untuk di sebarkan di dunia maya, viral, kalau istilah zaman sekarang. Tujuannya tak lain untuk menambah viewer sang penyebar, berharap nebeng terkenal dari keanehan Sarmin. Sarmin, sang orang gila berhobi itupun mendapat perhatian khalayak dari luar kampung. Foto-foto dan video di internet, sebuah artikel di koran, bahkan sebuah liputan untuk pojok hiburan dari sebuah stasiun tv lokal pun pernah memuat gambar dan video sarmin dengan burungnya. Burung bangau kertas.

Semenjak itu banyak yang menghampiri Sarmin, rata-rata adalah orang dari luar kampung untuk melihat sendiri bagaimana Sarmin burung beraksi menjalani hobi. Ya, Sarmin burung adalah nama baru untuknya. Wajah-wajah yang tak dikenal membuat Sarmin takut. Ia sering berteriak tidak seramah biasanya kepada wajah-wajah baru itu. Sekali waktu, Sarmin melempar seorang fansnya dengan seekor bangau yang baru selesai dibuatnya, lalu berlari pergi sambil bermonolog setengah berteriak. Yang dilempar malah girang, menjadikan burung Sarimin sebagai azimat yang pasti mandraguna.

Seminggu setelah burung Sarmin menjadi trending topic, Sarmin hilang. Ia tak lagi terlihat hilir mudik di jalanan kampung. Monolognya tak lagi terdengar di depan warung-warung. Burungnya tak lagi terlihat menggantung, juga bangaunya. Para warga perlahan merasa kehilangan. Ada yang kurang dari jalannya hari di kampung daun tanpa kehadiran Sarimin. Seorang demi seorang mulai mencari Sarimin, hingga rombongan pencari menjadi kian besar dibawah pimpinan Pangkalan Komando Strategis Pertahanan Sipil, dengan legalisasi dari Surat Perintah Sekarmadji Mardjan, sang kuwu kampung daun. Anehnya, tak seorang pun fans Sarmin yang menjadi anggota search and rescue Sarmin burung.
Akhirnya, pada suatu hari yang biasa*, Sarmin ditemukan telah membuntang di kolong jembatan perbatasan desa dengan posisi terlentang berbantalkan kresek hitam harta berharganya, dengan tangan yang menggenggam seekor bangau yang belum selesai terlipat. 

Di antara bau busuk mayat dan bau busuk Sarmin yang memang kurang disiplin menjaga kebersihan badan, warga menemukan sebuah dompet kulit usang yang tipis dan jelek. Di dalamnya tak ada apa-apa selain terselip selembar foto seorang gadis ayu, dan secarik sobekan koran lama berisi sebuah tajuk hiburan edisi minggu yang berjudul: Cara Mudah Menjadi Bahagia dengan Seni Lipat Origami
Burung bangau berdesakkan di dalam kantong plastik hitam milik Sarmin.
Sekarang warga kampung tahu alasan burung bangau Sarmin.
Sarmin mati dalam senyum.


JTR, 31 Des '16
*Soe Hok Gie – Catatan Seorang Demonstran, 1983

Rabu, 21 Desember 2016

22 Desember

Gelap mulai merambat setiap sudut Jakarta. Dari dalam sebuah bus yang tengah melaju di riuhnya tol dalam kota, terlihat lansekap yang mungkin terasa indah bagi sebagian orang: gedung-gedung tinggi dengan kerlip warna-warni cahaya lampu berlatar langit yang mulai mengelam.
Jalanan mulai macet, kaum pekerja Jakarta ramai berlalu lalang di pinggiran jalan, para penjaja makanan kaki lima, kendaran roda empat maupun dua yang seperti sedang berlomba siapa yang paling cepat bisa sampai ke rumah, semua terpantau dari jendela bus yang terjebak di tengah-tengah semua itu. 


Bus ini menuju Bandung, kota dingin nan ramah, jauh lebih lembut dari Ibukota. Ketika semua penumpang yang lain seakan terpaku pada pohon-pohon beton Jakarta, terdapat seseorang penumpang yang sedari tadi selalu terpaku ke satu titik yang sama: seorang ibu muda kepada anaknya. Lihatlah bagaimana cara-cara yang ia lakukan untuk menenangkan tangis si bayi kecil. Si bayi yang nampaknya sedang tidak sehat, menangis sejadi-jadinya. Lalu berhasil ditenangkan, untuk kembali menangis kencang setelahnya. 

Betapa sang ibu harus menahan malu, perasaan bersalah kepada penumpang lain, dan menahan emosi yang sekali-sekali tidak tertahankan untuk terbit. Tapi lihatlah betapa kuat ia menahan semua itu. Betapa rajinnya ia memasang muka-muka lucu dan menyanyikan lagu-lagu. Memutar otak demi mencari cara-cara baru untuk menahan tangis sang buah hati, atau memunculkan anugerah: sang bayi akan tertawa. 


Semua orang punya pengorbanannya masing-masing. Tentara kepada negara. Guru kepada muridnya. Dokter-dokter di pedalaman kepada sumpahnya. Tapi bayangkanlah bila profesi-profesi tersebut diemban oleh seorang ibu, seperti sang ibu muda di dalam bus itu. Maka alangkah kecilnya kita yang selalu mengeluh kepada beratnya pekerjaan kita hari ini, kurangnya uang untuk jalan-jalan nanti, sedihnya belum mendapat kenaikan gaji. 
Tenggelam dalam semua keluhan-keluhan itu kita lalu pulang dengan kelelahan. Setelah pulang, makan, dan mandi yang kian tak bisa melepaskan semua rasa lelah. Tapi kita tahu ada seseorang yang suaranya bisa membuat semua menjdi cerah. 
Sebuah nama di daftar kontak telpon yang rasa-rasanya telah lama terlupakan, terpinggirkan oleh ratusan chat kantor dan obrolan grup. 
Sebuah nama yang telah tertanam di benak sejak jabang: Ibu

Jumat, 16 Desember 2016

Sore yang Biasa di Bulan Agustus

Sore yang biasa di bulan Agustus.
Observatorium terasa dingin setelah basah oleh hujan kemarau yang ramai rintiknya tapi tiada deras. Tapi segala mendung telah disapu angin khas kemarau, dan langit kembali di bakar rona jingga bercorak terang. Bima melangkah diantara kilauan hijau rumput halaman yang basah, melalui jalan dari batu-batu pipih yang telah disusun menjadi penjejakan setapak mengarah ke pintu utama observatorium. Gemerincing kunci ditarik dari cantolannya di pinggang, dipilih satu kunci yang paling tua penampakkannya. Pintu terbuka dan suatu aroma tua yang akrab menyeruak masuk ke rongga hidung Bima. Sebuah aroma cengkeh, kopi, dan petualangan. 

Setelah di tariknya tiga buah tuas di pinggir ruangan, maka teranglah seluruh gedung kubah yang telah berumur itu. Waktu bumi telah menunjukkan pukul lima sore, dan sudah waktunya lampu-lampu taman dihidupkan pula. Diantara seluruh kewajibannya, Bima paling berar untuk menghidupkan lampu-lampu untuk menerangi taman, jalan, dan seluruh kawasan eksternal observatorium. Menurutnya, itu suatu perbuatan dosa, dimana membiarkan sebuah cahaya asing mengganggu pendar cahaya-cahaya langit yang sejak purba telah menerangi bumi sesuai kodratnya kala malam turun untuk: bintang-bintang.

Hari ini sungguh hari yang biasa. Bukan hari-hari yang ramai nan sibuk meski bulan kemarau tengah berlangsung dan jadwal observasi malam telah dibuka. Hari ini belum nampak rombongan anak-anak sd yang riuh, atau muda-mudi sma yang serba sok tau, atau mereka yang sekedar ingin merasakan keromantisan gedung tua berteropong raksasa, yang pasti sangat yahud bila difoto untuk media maya. Di hari biasa ataupun tidak, tugas Bima tetaplah sama saban sore: menyalakan lampu-lampu, membersihkan ruangan-ruangan, memeriksa secara sederhana keadaan teropong kecil (teropong utama bukanlah bagian Bima), lalu bersiaga di meja kecil yang tersudut bertuliskan "informasi" di atasnya. Di antara kegiatannya itu, obrolan antar manusia hanya sesekali terjadi, yaitu antara Bima dan mas Iwa yang bertugas di ruang teropong utama, atau dengan Udin penguasa dapur dan petugas serba bisa. Sedang dengan para punggawa antariksa, Bima hanya sesekali bertukar sapa dengan ramah, karena mereka selalu terlihat sibuk dalam segala sesuatu urusan. Sisanya, sepanjang sore hingga waktunya pulang Bima lebih sering mendengar  playlist lagu yang mengalir dari headset biru minimalisnya. Playlist lagu adalah penentu tempo langkahnya. Musik memberi bentuk pada hari-harinya. Maka, playlist Bima adalah sesuatu yang selalu baru, beriringan dengan barunya hari yang tiba. 

Hari ini tema playlist bima adalah smooth acoustic. Jam besar di dinding aula menunjukkan pukul 17.30. Bima meletakkan sapunya meski sisa debu belum sempurna hilang dari peradaban aula. Ia menuju ke pintu tempat ia masuk tadi. Dari sana, di depan pintu, terlihat hiruk yang tidak terlalu riuh yang terjadi di desa-kota di bawah sana, berlatar semburat jingga pada senja bulan Agustus yang mebuncah ria seperti menari, kala suasana di atas sini masih basah dan dingin bakda hujan pada pangkal sore tadi. Semua terasa begitu kontras sekaligus begitu padu. Bima menikmati semua itu dengan perlahan menutup mata dan menarik nafas dalam perlahan. Dalam sepersiekian detik pada tiap tarikan nafasnya itu ia bersyukur dipertemukan oleh observatorium tua di atas bukit hijau nan dingin ini.

Bima perlahan membuka matanya. Langit masih jingga, tetapi di ujung jalan sana, berlatar langit senja dan dipayung kanopi pendar lampu-lampu jalan, Bima melihat siluet seseorang yang sedang berjalan ke arahnya. Ah bukan, ke arah observatorium ini. Pandangannya terpaku pada sosok itu, mencoba mencari-cari apa saja yang dapat di jadikan identitas. Semakin dekat, ia tahu bahwa sosok itu ialah seorang gadis. Makin dekat, ia juga tahu bahwa gadis itu seorang yang jelita. 

Gadis yang dari ujung jalan sana berjalan menunduk, sekarang mengangkat kepalanya, ia berjarak sekitar 10 meter dari Bima. Sembari menunjukkan ekspresi kaget yang ceria, lalu menyapu keningnya dari bulir-bukir keringat dengan lengan jaketnya, ia terus berjalan kearah bima.
"Haaaah, sampe jugaaaa, jauh... juga... ya bang... dari bawah..", seru sang gadis dengan nafas yang memburu.
Aroma vanilla yang manis menggantikan aroma tua yg tadi bersarang di hidung Bima
"Capek mbak?", Bima menyambut sang gadis dengan senyum yang sama sekali tidak bisa ia kendalikan sembari melepas sebelah headset-nya dari kuping sebelah kanan. Yang kiri ia biarkan tetap menggantung.
"Mayan bang, ini jadi kurusan deh kayaknya" katanya sembari mencubit pipinya
Aih lucu, pikir Bima yang sekali lagi tidak ia sengajakan. Benar-benar gestur yang lucu, pikirnya, dan senyum tak beranjak dari bibir Bima.
"Mau liat bintang mbak? Atau foto-foto doang?"

"Mau liat bintang dong bang, kalo foto doang udah luntur make up saya saya keringat"

"Udah reservasi?" 

"Hah, harus reservasi ya bang? Yah gimana dong saya ga tau bang. Tadi pas nyampe langsung kesini, ga tau juga kalo kudu reservasi", katanya dengan nada yg memelas tanpa dibuat-buat.
Bima melihat kebelakang, ke arah observatorium. Hari ini hari yang biasa. Tidak ramai, dan belum tampak pengunjung lain mendatangi gedung berteropong itu.
"Oke, saya bisa bantu mbak, tapi syaratnya mbak harus bener-bener liat bintang, kurangin foto-foto, dan panduan saya di dalam ya"

"Serius bang? Siap! Saya kesini beneran mau nge-date sama bintang kok bang. Bang makasih banyak ya bang", katanya sembari meraih tangan Bima untuk bersalaman lalu menempelkan ke keningnya.
Bima kaget, yang dalam beberapa milidetik kagetnya terkonversi menjadi tawa yang sedikit menyimpan malu meski tetap dibalut senyum senang. 

"Sekarang mbak reservasi dulu dari hp nya, nanti biar saya langsung verifikasi. Di dalam aja gimana mbak, udah mau maghrib". Kata-kata Bima disambut anggukan berkali-kali sang gadis dengan senyum yang mengembang. Aih lucu, pikir Bima sekali lagi.

Bima melangkah menuju pintu tua aula utama. Di belakangnya, sang gadis mengikuti sambil berceloteh girang tentang betapa ia dilimpahi keberuntungan hari ini. Bima pun berpikir begitu, betapa ia tiba-tiba merasa beruntung hari ini, dan senyum di bibirnya terus merekah. Di telinga kiri nya terdengar melodi awal Bloom milik The Paper Kites. Pintu besi tebal aula utama bergeser dengan suara yang berat, tapi yang terdengar oleh Bima hanyalah melodi indah pada sore yang biasa di bulan agustus.


When the evening pulls the sun down,
And the day is almost through,
Oh, the whole world it is sleeping,
But my world is you


Can i be close to you?



Pantai Panjang 16 Dec '16

Rabu, 14 Desember 2016

Bila Bertemu

Dendam menumpuk lamat-lamat
Sebuah garis hampir dilewat tamat
Sesak amat
Memejam pun hampir tak guna
Bila sepoi telah purna rasa
Cuma ada pekak ngiang nama
Juga cerah wajah nan jelita

Aku marah
Pada hari yang telah terbiasa
yang sajaknya cuma searah
Pada hati yang dera mendera
lagu hujan berpuisi rasa
Pada kedua sudut bibirmu
Pada lembut jari-jemarimu
Kukepalkan jemari, kurapalkan sumpah
Bila bertemu, kutinju itu rindu

1 des 16