Pages

Minggu, 01 November 2015

Romansa mati muda

   Saat-saat tenang seperti ini, aku acap berpikir tentang mati. Pertanda apa? Ataukah memang pikiran tentang mati memang selalu tertanam di benak manusia-manusia yang tenang? Atau ini pengaruh dari ketidak-mengertian yang menghadirkan kemistisan atas lagu sigur ros yang tengah diputar di youtube? 

   Tapi sore cerah sehabis mandi seperti ini sangatlah enak untuk berfantasi. Sekarang, fantasiku tentang mati, mati muda. Sepertinya, mati muda akan selalu menghadirkan sebuah romansa. Peristiwa yang sebenarnya terjadi ratusan kali setiap hari itu selalu bisa di gali untuk menjadi kisah. Lihatlah bagaimana banyaknya tokoh yang melengkapi legendanya dengan kematian muda, yang menjadikan kisahnya lebih sendu dengan suatu keromantisan yang tragis. Baik dia tokoh yg murung ataupun tidak. Kau pasti tau seorang di benakmu.


   Tentu dan yakin, sebagaimana umumnya manusia lain, aku menolak kematian. Aku menolak sebuah fakta bahwa lini masa semestaku harus berhenti di satu titik yang random. Aku menolak dalam sesak bahwa nanti aku akan berpisah dengan kesayangan, atau mereka yang berpisah denganku. Di saat sebelum tidur aku saban-saban mengkhayalkan rencana masa depan yang akan ku bangun dan jalani, terhenti untuk membuka mata bahwa nanti aku harus menutup mata tanpa pernah lagi terbuka.



   Tapi tetap saja, mati muda merupakan sebuah romansa. Terlepas matimu tragis, ironis, atau khusnul khotimah lengkap dengan senyum dan setitik air di mata, kisah dibaliknya selalu menarik untuk di dengar. Inilah mungkin salah satu lagi sifat umum manusia: ingin dikenang. Mungkin sifat ini yang mendorongku pada sore ini untuk me-romantisme-kan mati muda. Aku ingin dikenang. Aku ingin orang bersedih ketika aku mati. Aku ingin ceritaku di kisahkan nantinya bahkan ketika kuburku telah berganti gedung 20 lantai. Aku ingin berarti. Ah iya, arti. Bukankah kita hidup mencari arti? Tapi tentu tak semua yang punya arti dikisahkan kembali. Kecuali dia berarti, lalu mati. Sekali berarti lalu mati? Ah, macam C.A saja, hahahaha. Ah iya! C.A juga mati muda! Inilah mungkin pengejewantahan betapa aku self-centered sekali. Bah, jadi jijik juga. 

   Sudah setengah lima, sore makin cerah. Renungan kematian kadang menyenangkan juga, ternyata. Apalagi mati muda. Tapi tentu sedih kalau aku mati sekarang. Aku tidak akan tenang jika terbayang bahwa mama nanti haruslah sendiri, meratapi aku yang takkan lagi pernah pulang. Ah mama, bukan maksud aku ingin engkau pergi duluan, sama sekali bukan, itu juga tak pernah tahan kubayangkan. Sedang ditinggal papa pun aku sudah limbung kemana-mana. Inilah mungkin bukti bahwa aku manja. Tapi yang satu ini, aku tak jijik pula, tak mengapa, ku pikir, jika manja dengan tanggung jawab. 



   Ah, tadi aku sempat membayangkan, bagaimana jika temanku yang biasanya melongo dari jendela kosan memanggil namaku, melihat aku terbujur kaku  tak menjawab sahutannya yang khas. Ia cemas, pasti, lalu mendobrak pintu? Hmm, kurasa belum. Ia lari, berteriak mencari pertolongan, lalu mungkin bersedih. Ah untuk itu aku masih ragu. Ia kaget, pasti. Tapi bersedih? Terlebih menangis? Atau mengenang hidup ku? 

Entahlah, apakah orang sepertiku menghasilkan romansa jika mati muda.


1 Nov '15