Pages

Minggu, 06 Desember 2015

III

Aku lahir saat milenium baru saja berganti, tahun 2000 pada tanggal 4 Juni. Kata ibuku, aku lahir ketika tanah bergoncang hebat di kampung halaman. Karena itulah beliau menamakan jabangnya yang baru lahir ini dengan nama megah: Bumi. Ihwalnya, ia berteriak begitu saja ketika aku baru setengah melorot keluar dari rahimnya. Ia merasakan goncangan keras dari bawah dipan, dan seluruh barang dalam kamar, dan juga air di gelas, dan juga badan bidan beranak: "Gempa" , teriaknya tertahan, tersengal-sengal, "Bumiiiiii!!!", kencang ia berteriak, beradu kencang dengan goncangan di semesta, dan aku brojol sepenuhnya, menangis keras menyambung teriakan ibunda yang sudah lemas ngos-ngosan dan dibopong keluar rumah karena gempa masih terasa. Begitulah, bidan yang kaget diteriaki ibuku memberi saran kepada ayahku (yang dari tadi duduk bingung di samping dipan karena bimbang mau melihat anaknya lahir dulu atau membopong bininya ngungsi dulu) untuk menamakan putra keduanya Bumi. 
Ayahku seorang negarawan, kader partai yang setia, nasionalis kolot sejati. Ia menyukai sejarah dan buku-buku, maka begitu pula aku dipupuknya tumbuh. Aku jatuh cinta pada Republik ini. Aku hidup dalam romansa-romansa perjuangan dan nasionalistis. Maka ketika remaja, aku merasa jalan hidupku tak lain tak bukan adalah menjadi tentara. Setamatnya SMA, masuklah aku akademi tentara. Setelah lulus akademi, aku ditugaskan sebagai komandan peleton, dan siapa sangka nantinya aku mendapatkan kesempatan membuktikan cinta tanah air langsung di medan juang. Ya, Juni 2024, republik gempar oleh pemberontakan. Gerombolan pengacau keamanan yang terdiri dari orang-orang tak tahu diri. Gatal gemeratak jariku ingin menarik pelatuk. Operasi pembersihan pun diperintahkan oleh Presiden Jenderal, maka berangkatlah kami ke daerah yang ditugaskan: Pesisir Sumatera.

Oktober 2024, sudah 4 bulan kami terus menyisir bergerak mengejar gerombolan. Belum ada penangkapan berarti, hanya kontak senjata yang mengagetkan, sedang korban dari kami maupun gerombolan sudah lumayan. Sampai pada sebuah hutan jati tua yang sejuk di sebuah sore, suara laut sudah mulai terdengar. Di ujung hutan kami menemui sebuuah desa nelayan yang ramai dalam tenang, khas desa-desa pesisir sumatera. Awalnya aku pikir kami bisa beristirahat disini, barang semalam. Tapi laporan intel langsung membuat siaga: desa ini pemasok logistik gerombolan. Sesuai prosedur, aku mengecek ulang keadaan dan perlengkapan peleton, melapor ke atasan dan menerima perintah untuk segera menggeledah desa tersebut. Peleton ku bergerak masuk bersama beberapa kendaraan tempur menuju alun-alun desa, bertemu dengan kepala desa dan meminta bantuannya mengumpulkan penduduk desa untuk mendengarkan maklumat. Ya, tentu aku melakukannya sesuai prosedur. Purnama benderang sekali, dan masyarakat sudah berkumpul dalam sepi. Mereka takut, itu wajar saja. Sehari-hari mereka hanya mengenal suara ombak dan mesin kapal, kali ini berganti riuh mesin kendaraan tempur. Tiap hari hanya berhadapan dengan wajah ramah yang semuanya saling kenal, kini mereka berhadap-tatap dengan wajah asing yang garang yang coreng-moreng dengan arang hitam.
Dalam awas aku memperhatikan air muka penduduk desa. Semua kuyu dalam takut, tak nampak yang mencurigakan bagiku. Sejenak sesudah ajudan komandan kompi membacakan maklumat, dalam hening yang aneh aku merasa tidak enak hati. Kami telah membawa ketakutan yang berlebihan kedalam desa ini, menurutku. Lalu sepi itu buyar ketika empat orang yang tiba-tiba berlari. Segera saja aku menyuruh anggota peletonku mengejar dan mengamankan warga lainnya, dan aku pun ikut mengejar salah satu lelaki yang lari tadi. Tak tau aku ada yang mengikutiku atau tidak, belum sempat aku memilih orang untuk menemaniku dalam pengejaran ini.
Teriakan dan tembakan mulai terdengar, memicu riuh yang kacau balau. Tapi targetku masih terlihat di ujung jalan, berbelok ke sela-sela rumah penduduk. Aku mengikuti jalurnya dan mendapatkan targetku telah hilang. Berdasarkan insting saja aku menendang mendobrak pintu rumah kedua dari belokan.
Di dalamnya kudapati seorang ibu yang memeluk kedua anaknya, aku tak sempat permisi, aku langsung menuju kamar dan ruangan belakang, keduanya kosong, sedang rumah tersebut hanya terdiri dari tiga ruangan itu belaka. Tapi ada suara mencurigakan dari bawah tikar tempat ketiga beranak itu meringkuk berpelukan di ruang depan. Aku menyuruh mereka minggir tapi mereka bergeming. Aku terpaksa menarik kasar tikar tersebut dan mendapati ubin berbentuk aneh yang nampaknya bagian terpisah dari lantai rumah. Belum sempat aku mengangkat ubin tersebut, tapi telah terlontar sendiri disertai lelaki yang berdiri mengancungkan pistol yang disusul letusan keras dari moncongnya. Terlalu tiba-tiba, aku belum sempat mengantisipasi. Selanjutnya hanya rasa sakit yang demikian sakit pada dada kananku. Aku terdorong hingga tersandar ke dinding, lalu melorot jatuh terduduk. Rasa sakitnya menyadarkan bahwa aku belum mati, dan masih bisa melihat jelas pria yang berdiri di atas ubin  aneh tadi. Secepat mungkin aku berusaha memposisikan senjataku kearahnya, dan secepat mungkin berusaha menarik pelatuknya. Tapi astaga, demi Tuhan aku sama sekali tak menyangka anak kecil yang tadi menangis dalam pelukan ibunya, berlari untuk memeluk lelaki yang telah menembakku tadi. Oh Tuhan raja semesta! Aku hanya bisa menyaksikan saja tubuh kecilnya tersentak menerima 3 butir peluru dari moncong senapanku, yang menembus badannya untuk kemudian bersarang di tubuh lelaki yag dipeluknya. Aku bisa apa? Aku harus apa?  Sementara aku hanya bisa diam menyaksikan semua kengerian ini, ruangan menggelegar oleh raungan, jeritan, teriakan yang sakit bukan oleh  luka fisik. Jeritan dan tangisan yang membuat aku runtuh dalam kacau balau, teriakan yang memanggil sebuah nama dengan pilu, yang sepertinya adalah nama si kecil yang kini telah tersungkur diam memeluk si lelaki yang juga bersimbah darah tak bergerak. Aku bingung, aku cemas, aku menyaksikan adegan ini dengan rasa bersalah yang amat sangat. Aku telah membunuh anaknya? Ya, aku telah membunuh anaknya, dan mungkin juga suaminya. Aku telah menghabisi setengah dari keluarga kecil yang sederhana itu. Aku adalah manusia terkutuk yang pantas ditembak mati tepat di atas batang hidung.
Tapi apalah daya, badanku ternyata menolak mati. Aku meraung kesakitan untuuk luka tembakan di badanku, tapi aku menangis bukan untuk kesakitan yang sama. Sebelum aku tak sadarkan diri, aku ingat dalam samar ada beberapa orang tentara dari peletonku yang masuk ke dalam ruangan tersebut, mengangkat tubuhku dan menanyakan keadaanku. Aku lalu pingsan, dan akhirnya, disinilah aku, berbaring bersamamu, menceritakan dosa ku.
Aku selalu percaya bahwa aku cinta negara ini. Bahwa ia harus di bela hingga titik darah penghabisan adalah kebenaran belaka. Dan juga para pemberontak atau siapapun yang berusaha menghancurkan pertiwi ini harus di tumpas dengan segala cara, pun aku tak ragu. Tapi sekarang aku bertanya tentang cinta ku. Bahwa cinta ku, dan mungkin cinta kita semua bergerak semacam satelit, yang mengitari cinta-cinta lain yang nyatanya lebih besar dari yang kita tau. Cinta yang mengorbit cinta lain yang lebih berat massa kasihnya, sehingga ia menarik cinta kita ke dalam alur cintanya, sadar ataupun tidak. Dan semua terjadi mungkin bersusun urut mungkin tidak. Diantara cinta-cinta yang berputar pada porosnya sedang mungkin juga punya cinta lain yang mengorbit padanya, mungkin rapi jalurnya ataupun mungkin kadang saling bersenggol satu sama lainnya meski tetap mengorbit pada satu cinta yang lebih besar, dan terus begitu yang mungkin tanpa ujung atau berujung pada satu yang aku tak tahu apa ujungnya, Maha Cinta? Kepada apa dan siapa? Berbatas ego atau logika?
Coba kau katakan padaku, menurutmu, manakah yang lebih indah: cinta negaramu atau cinta keluargamu? Ataukah memang cinta akan kehidupan harus diatas semuanya? Lantas apa fungsi cintaku sesungguhnya?
Hei, kucing kecil, katakanlah padaku, apakah aku akan gila?

16 komentar:

  1. Suka! Tapi akhir kisah si tokoh dalam cerita 1 dan 2, gimana? Menggantung?

    BalasHapus
    Balasan
    1. halo anon! Terima kasih sudah membaca dan komen.
      Akhir dari tokoh di cerita 1 dan 2 bisa diserahkan kepada imajinasi pembaca aja :)

      Hapus
  2. Semangat skripsiannya. Andai saja dari dulu tidak pernah ada yang namanya "cowo lah yg minta kenalan duluan", atau "gengsi kali kalau cewek minta kenalan duluan", maka I woulnd't be your anonymous, Ryo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih! Kamu juga lagi skripsian? Kalo iya, semangat juga ya.

      Maka perkenankanlah saya menggunakan cara lama:

      "Halo, namanya siapa? Boleh kenalan? ;) "

      Hapus
  3. Gak, belum saatnya skripsian.
    Halo, nama ku emm belum saatnya juga kamu tau. Atau memang kamu gak akan pernah tau siapa saya.

    I know its kinda creepy but yea aku suka sajak mu, Ryo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. well, it's nice to know that somebody like my writing. i'm thanking you from all my heart. semoga nanti kita bisa kenalan utuh ya :)

      Hapus
  4. 3 cerpen yang bertema sama,Intepretasi cinta
    Good story ryo

    Buat anon diatas saya, semoga kamu bisa mengintrepretasi perasaan kamu dengan bijak :)
    Semoga Tuhan menunjukan jalannya
    -BSJ-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih telah menyempatkan waktunya buat baca dan komentar.
      Seneng bgt, bikin semangat ketika tau ada yg bener-bener baca karya kita. Sekali lagi terimakasih banyak!

      Hapus
  5. Semoga :) dan semoga tuhan punya jalan lain untuk ku kenal langsung sama kamu. A6 E& Q2

    BalasHapus
  6. Interesting stories, Gerhana...
    Sepertinya udah butuh admin untuk fanbase nih
    Atau udah pantes punya official sticker mungkin ? :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hola non! Terimakasih sudah baca dan komen. Official Sticker line mah aku udah punya: James B)
      Ditunggu Video covernya di youtube yaaa

      Hapus
  7. As always ya om om yang satu ini emang punya bakat dlm merangkai kata-kata

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dipuji sama master gambar, すごく嬉しい! Terimakasih sudah menyempatkan waktunya untuk membaca dan memberikan komentar

      Hapus
    2. anda terlalu berlebihan, saya masih newbie ko XD
      sama-sama.. lanjutkan karya-karyanya om!

      Hapus
  8. Hei! It's me again, your anonymous. May i ask you something? Lemme know your askfm account, can i? Thank you

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai anon! Akunnya ryogerhana, tapi udah lama ga aktif sih...

      Hapus