Pages

Minggu, 06 Desember 2015

I

Pesisir sumatera, Oktober 2024. 
Persatuan Nasional pada Juni tahun ini,  telah merilis pernyataan bahwa pemerintahan republik tidak lagi sah karena dianggap gagal dan otoriter, maka dari itu PN akan memberontak bersama rakyat. Seluruh penjuru republik telah menerima kabar tersebut, dan menimbulkan kegaduhan berskala nasional. Republik siaga satu; lambang dan bendera PN menjadi sesuatu yang diharamkan pemerintah meski di beberapa tempat panji-panji dan pataka-pataka PN tetap berkibar berdampingan dengan sang saka, sedang dibawahnya terlihat barisan pria dan wanita bertopi caping serta memanggul senapan siap bergerak ke berbagai arah mata angin. Tapi hal itu tidak terlalu dipusingkan Syarif, yang tetap setia dengan perahunya, berkelana di atas sesuatu yang sangat akrab baginya: laut. Syarif adalah seorang nelayan, lahir dari keluarga nelayan yang bermukim di kampung nelayan. Sepanjang ingatannya, laut adalah apa yang dia lihat setiap hari, bahkan lebih sering dari ia melihat nasi. 
Angin laut adalah sahabatnya, suara ombak adalah musik baginya, kecipak air asin adalah sesuatu yang menyegarkannya. Ketika nelayan-nelayan lain memandang jenuh dengan laut dan sekitarnya, beda hal dengan Syarif: ia mencintai laut. Ia selalu merasa romantis dengan laut dan lingkungannya. Syarif dirayu oleh gulungan ombak dan birunya air. Rasa yang menggugah itu sudah ia rasakan sedari kecil, hingga kini setiap ia melaut. Jika nelayan lain melaut untuk nafkah, maka bagi Syarif, ia melaut karena cinta. Nafkah tentu masih masuk hitungan meski urutannya di bawah cinta. 
Dalamnya cinta Syarif tercermin dari sikapnya yang memperlakukan laut dan lingkungannya dengan penuh kasih, dan tak segan menghardik siapapun, ya siapapun yang memperlakukan laut dengan tidak semestinya. Cerita yang menjadi legenda di kampung Syarif adalah ketika ia menempeleng anak kepala kampung yang berumur 10 tahun hanya karena ia membuang bungkus makanan dari atas kapal penangkap ikan milik ayahnya. Kejadian itu cukup menyadarkan warga kampung bahwa cinta nya Syarif sudah sedemikian dalamnya, dan cenderung sebagai penyakit akal. 
Syarif cinta akan laut. Walaupun ia tidak bisa berenang.
Ya, ia sama sekali tidak bisa berenang. Bukan karena ia tak mau belajar. Sudah sering kali ia belajar dan diajar untuk nyemplung dan mengapung di air, tapi karena alasan yang mungkin hanya semesta yang tahu, kakinya seakan beku tak bisa bergerak. Acap kali sudah ia hampir mati di laut yang dicintainya. Acap kali pula ia dicemooh kawan-kawan di desanya. 
"Tapi tak mengapa", pikirnya, "toh tanpa berenang aku tetap bisa melaut, tetap bisa dekat dengan apa yang aku cintai"
"Dan juga, bukankah manusia itu tidak sempurna? Maka Cinta tidaklah harus menuntut sesuatu yang sempurna dari pihak - pihak yang sedang merasakannya; cinta lah yang nanti akan menyempurnakan manusia", batin Syarif mengiyakan. Jadi begitulah, berhari-hari ia pergi melaut, yang kadang lebih lama dari kawan seprofesinya yang lain, meski ia pulang membawa hasil tangkapan yang lebih sedikit.

Purnama bulan ini membuat malam menjadi benderang. Saat-saat seperti inilah ombak menjadi sedikit lebih tinggi daripada biasanya. Jalanan kampung terang dengan sinar bulan dan obor di depan masing-masing rumah warga. Dari kejauhan terlihat siluet-siluet kendaraan besar, tetapi raungnya sudah terasa dekat di kuping yang mendengar. 
Panser, itu adalah panser militer. Suara raungan yang membuat cemas seketika, bahkan untuk pribadi yang tak bersalah sekali pun. Rombongan pertama panser dengan umbul-umbul merah putihnya dan barisan tentara di belakangnya tiba di tengah kampung saat purnama masih belum di pucuk kepala. Warga berkumpul di tengah kampung atas suruhan tentara yang berkeliling ke rumah-rumah, menyuruh warga melepaskan damai malam purnamanya. Syarif termasuk dalam keramaian tersebut, setelah ia yang sedang mandi sinar purnama di tepi pantai di hardik dua orang tentara untuk segera kembali ke desa. 
Seorang berwajah sangar keluar dari dalam panser paling depan, dari atas panser itu ia membacakan maklumat: "Kampung ini terdeteksi sebagai sarang dan pemasok untuk gerombolan PN, bagi kalian yang mempunyai informasi dan atau merasa menjadi bagian dari gerombolan, harap maju ke depan, demi kebaikan bersama!" , teriak si sangar dengan suara serak yang
kaku
Warga desa hanya diam, Syarif pun. Mana mereka tahu tentang gerombolan, tentang ikan mungkin mereka tahu. Gerombolan hanya pernah mampir sekitar 2 bulan lalu, untuk meminta air dan perbekalan, dan meneruskan perjalanan menyeberang gunung karang di selatan sana. Warga sudah curiga kalau barisan orang-orang yang kelaparan itu akan membawa petaka bagi kampung yang disinggahinya.  Hanya itu, tapi mana ada jiwa yang berani cerita? Sedang untuk bersuara pun mereka gemetaran. 
Ketika warga yang hampir semuanya memikirkan hal yang sama, sekonyong-konyong 4 orang diantara mereka berlari dari kumpulan massa, berlari ke arah rumah-rumah, dengan alasan yang hanya Tuhan dan mereka berempat sajalah yang tahu. Refleks saja para tentara yang dari tadi berbaris rapi di depan penduduk berlari mengejar sembari berteriak semacam peringatan. Lalu suara rentetan senjata menggema sebentar, untuk terus hilang terbawa angin laut. 3 orang yang lari tadi segera tersungkur, sedang satu orang berhasil hilang di antara rumah-rumah kampung. Warga yang sedari tadi hanya termangu, mendengar rentetan senjata yang demikian kerasnya, dan tentara yang berderap ke arah mereka, sontak menjerit takut. Mereka bubar, berlari dalam kebingungan. Tentara-tentara yang bingung menyangka mereka berlari untuk mengikuti jejak teman mereka yang 4 orang tadi, lantas mulai menarik pelatuk. Darah. 
Darah mulai terlihat merahnya di bawah sinar purnama. Syarif yang menyaksikan peristiwa tersebut juga berlari, berlari tambah kencang. Dua-tiga peluru terasa melewati telinga kiri nya. Ia berlari tanpa arah, kakinya tanpa sadar membawanya kepada pasir pantai. Ia tiba di tepi laut. Ia sempatkan menengok ke arah kampung, binar cahaya memerah mulai tersembul di balik pohon-pohon kelapa yang rapat sebagai pembatas antara kampung dengan pantai, di sertai suara teriakan yang riuh dan pilu. 
"Api! Mereka membakar desa!", pikir Syarif. 
Ia lemas, lalu berlutut. Dalam hati segera merapal doa-doa keselamatan. Di belakang, terdengar suara orang menebas semak dan teriakan lantang. Tentara sudah menyusul Syarif hingga ke pantai. Syarif tersentak dari doanya, dan merasakan kecemasan hebat dalam debaran jantungnya yang sangat cepat. Apa yang harus aku lakukan, pikirnya. Tiba-tiba, ia berdiri sambil melompat kedepan, tergopoh, ia berlari ke arah laut. Ya, kepada siapa lagi ia meminta perlindungan jika bukan kepada yang dicintainya? Ia berlari hingga kakinya merasakan dinginnya air laut. Sedang di belakang, para pengejarnya terasa sudah semakin dekat. Riuhnya desa dan sesekali rentetan suara senapan masih terdengar  mengangkasa, di langit kampung yang terbias oranye oleh api. Syarif berlari hingga air laut sebetis membenamnya, lalu sepinggang. Berlari sudah kian berat terasa, ia kini berjalan terhuyung melawan hempasan gelombang. Sambil dibantu gerakan tangan, ia terus menuju tengah. Ketika air sudah mencapai dada, ia sudah siap. Ia berjalan hingga tinggal ujung kaki saja yang dapat menyentuh dasar berpasir berkarang sedikit tajam. 
Ia lantas berteriak, "Laut, selamatkanlah!" . 
Sekonyong-konyong sebuah ombak yang tinggi menyapu kepalanya, hingga Syarif hilang wujudnya di antara air laut yang beriak kasar, disaksikan oleh purnama yang sudah di pucuk kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar