Pages

Rabu, 15 Juni 2016

Menangis Itu Baik yang Tidak Terlalu Baik

Sepanjang kehidupan remaja dan dewasaku (ah masa sih?), aku hanya beberapa kali menangis. 
Pertama, Maret 2011, saat Papa pulang ke surga. Ketika bertemu pertama kali dengan beliau yang sudah berganti  ke pakaian terakhirnya, heran, aku tidak menangis. Sepanjang malam aku hanya merenungi tentang dosa-dosaku kepada beliau, dan keinginan-keinginan beliau kepadaku yang belum sempat terwujud. Sesak luar biasa, tentu, tapi herannya air mata tidak mau keluar sedikitpun. Juga aku tahu, Papa tak mau dilepas dengan sesenggukkan. Lalu malam pertama setelah beliau berpindah ke rumah terakhirnya, aku berkumpul dengan sanak saudara, bercerita dalam suasana duka yang di riang-riangkan. Dan ketika tiba saat aku menceritakan tentang ingatan-ingatanku tentang Papa yang humoris keterlaluan, tiba-tiba air mata meluncur begitu saja. Dan sepersekian detik berikutnya, aku telah tersedak dengan ingus sendiri beserta pandangan yang kabur oleh air yang menumpuk di pelupuk.
Kedua, adalah saat mama kecelakaan. Hari itu 17 agustus, aku sedang berada di puncak gunung untuk melaksanakan upacara bendera. Pagi dingin tiba, hari merdeka, dan kabut belum sepenuhnya hilang. Seorang ranger gunung berlari, mencari seseorang yang bernama Gerhana yang sepertinya seantero gunung hanyalah aku pemiliknya. Aku pun menghampirinya, turun satu pos ke arah bawah dari camp ground yang lebih ke pucuk. Tiba di pos tersebut, tepat sebelum aku bertatap muka dengan sang ranger, ponsel sepupuku berbunyi yang entah bagaimana bisa mendapatkan sinyal seiprit di atas gunung sini. Sebuah pesan singkat yang berbunyi:
"Yo, pulang sekarang. Mamamu kecelakaan, sekarang di rumah sakit." 
Sontak mataku blur oleh air yang mendesak-desak. Aku menangis tanpa suara. Aku hanya mengatakan kepada sepupuku
"Bang, ayo kita pulang bang, mama di rumah sakit".
Aku berlari di lereng gunung tanpa lagi memperhatikan pijakan. Dan kadang sepupuku tertinggal jauh di belakang. Tidak ada lagi nyanyian dan yel-yel seperti saat menanjak kemarin. Yang ada hanyalah isak. Ya, sekarang tangisku bersuara. Mama adalah segalanya bagiku, dan pikiran-pikiran buruk tentang apa yang telah terjadi kepada beliau sangat menyiksa otak dan batin, sekaligus memberi tenaga kepada kaki untuk terus berlari.
Sampai di pos awal pendakian, telah ada orang yang menjemputku. Di sana tangisku reda. Dan kami memacu mobil dari desa pendakian menuju kota secepat yang kami bisa. Dan setelah bertemu Mama, tangisku kembali pecah. Aku menangis seperti bayi yang dicerai dari netek. Sembari meleler, aku bersimpuh di sebelah Mama. Tangannya patah. Dan otakku berputar mencari cara untuk mencelakakan orang yang telah mencelakakan Mama, hahaha.
Ketiga, adalah hari ini, saat aku mengabarkan kepada Mama bahwa anaknya gagal sidang (lagi) dan terancam mundur wisuda. Aku menangis saat mendengar suaranya yang di tenang-tenangkan.
"Mama ngerti nak, ini bukan salah kamu. Mama cuma sedih liat kamu yang terombang-ambing begini".
Aku meleler dahsyat. Ingusku sepertinya tumpah ruah. Sepanjang hidupku, aku merasa ga pernah membanggakan Mama. Prestasiku dibawah standar. Ga pernah menang suatu lomba (pernah juga sih waktu SD). Dan sekarang, setelah menghambur-hamburkan rezeki yang beliau dapatkan dengan susah payah demi anaknya bertitel sarjana, aku kembali membuatnya kecewa. Ah Mama, betapa kau mulia, meski diberi cobaan dengan dititipkan anak sepertiku kepadamu.
Keempat, sepertinya belum ada. Atau aku lupa? Nantilah kalau ada (atau teringat) aku ceritakan kembali.
Nah intinya adalah (biar sesuai sama judul), menangis itu baik. Menurutku loh. Tapi menjadi tak terlalu baik jika berlebihan dan keseringan, terutama bila kau seorang lanang. Jadi menangislah, karena menangis adalah sebuah ekspresi yang kaya: sedih, senang, haru, cinta, bahagia, marah. Dan menangis membantu melepaskan beban yang mungkin tidak bisa dikonversikan menjadi kata-kata, maka jadilah air mata. Tapi menangislah secukupnya hai lanang. Bukan maksudku menempatkan wanita sebagai yang harus nangis lebih banyak, bukan. Tapi lanang, bila kau nangis berlebihan, ketika ibumu, kakak perempuanmu, jodohmu, atau semua wanita yang kau kasihi menangis, siapa yang akan menyeka air mata mereka jika kau sendiri sibuk menyeka air matamu dan mensrepet ingusmu sendiri? 
Nah begitulah, sok bijak nian kan aku? Biarlah, biar sesuai sama judul. Biar penuh pula blog ini, dan tidak hanya berisi sajak sampah dan gombalan. Meski kalimat barusan cheesy minta ampun, he.
Eh, tapi sebelum pamit, aku sepertinya pernah menangis sekali lagi. Tapi aneh, yang keluar bukan air mata, tapi manifestasinya muncul sebagai demam, yang membakar jidat, leher, sampai ke sela-sela jari. Hingga sekarang, aku masih di kompres bye bye fever dan di tempel koyo hansaplast. Mahal bukan?
Dan demam itu mungkin karena aku berusaha keras menahan air mata demi selarasnya aku dan konsep kelananganku.
Ha! 
Kapan ya aku mulai demam? Sepertinya setelah obrolan kita di suatu pagi saat hari libur, ketika ponsel ku berdering dan diujung sana adalah isak tangismu bersuara. 


di Kamar yang belang macam permen,
15 Juni '16


12 komentar:

  1. Ryo, semangat. Hikmahnya, dengan begini, kamu gak akan mengecewakan mamamu selepas lulus nanti. Karena perjuangan orang tua khususnya mamamu itu luar biasa. Be tough, Ryo :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai anon. Terima kasih. Selepas lulus pun masihlah sesuatu yang dingin berkabut. Tapi semoga saja matahari tetap terbit :)

      Akhir-akhir ini langit selalu sendu, bukan begitu?

      Hapus
  2. Matahari pasti tetap terbit. Lantas, Gerhana kapan bangkit?

    Btw kamu itu langit atau gerhana sih? Kok mirip? Sama-sama lagi sendu.

    Dan Ryo, kalau boleh aku sarankan.
    Jangan terlalu lama mendekap sendu. Lebih baik memupuk rindu. Lalu berwudhu. Dan berdoa untuk bahagiamu.

    Maafkan anonmu ini bawel. Lupakan lupakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hai anon. aku sudah bangkit, tapi mungkin memang langit membawa pengaruh kepada manifestasi emosi.
      Insya Allah, wudhu akan menenangkan, benar seperti katamu.
      Tapi aku tak berani memupuk rindu, takutnya bertumpuk terlalu jauh lalu longsor, hehe

      Terimakasih untuk bawelmu :)

      Hapus
    2. Alhamdulillah. Cheer up! :B sampai jumpa di postingan blogmu yang lain

      -anon yang sok sok anon

      Hapus
    3. Anon itu nama kucingku yg baru melahirkan. Anaknya kalem, manja, dan laper mulu. Kamu juga begitu ga non? Hehe

      Hapus
    4. Wew disamakan dengan kucing. Pasti kucingnya lucu, soalnya aku juga lucu (mulai kepedean). Aku laper mulu dan sedikit manja kalau ada maunya. Tapi sayangnya aku enggak kalem, barbar malah hahaha. Untung kamu enggak kenal sama aku.

      Hapus
    5. Kalo kenal pasti lebih lucu. Nanti aku kenalin sama anon kucingku, kalian mirip, si anon juga manja dan laper mulu. Masa seminggu makannya sampe 30 ribu. Kan mahal :(

      Hapus
  3. See? I told you, Kak. You have a lot of people, who care about you. Even a secret admirer~

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehehe
      i know din. memang kk menunjukkan gejala kurang bersyukur kayaknya. Makasih yaa din. salam sama dinginnya tanah eropa :)

      Hapus
  4. Hai Ryo
    Aku salah satu anon dari anon-anon lainnya (gatau brp banyak) yg selalu menunggu cerita baru darimu. Sebelumnya,semangat ya Ryo,semoga kecewamu ga berlarut-larut. Masih banyak hal lain yg bisa kamu syukuri di dunia ini. Contoh simplenya kamu masih bernafas dan masih bisa baca komen dari aku (naon sih)
    Ada yg menarik perhatianku dari ceritamu kali ini, yg kemudian menciptakan rasa aneh dalam diriku, tepatnya hatiku. Cemburu? Hahaha ga deng, iri mungkin lebih tepat. (Jangan takut ya, aku cuma penggemar biasa )
    Pertama, aku iri dengan si anon di atas. Ingin juga rasanya berbalas-balas komen denganmu, tapi aku terlalu malu dan ga pandai bikin kata-kata puitis
    Kedua, aku iri dengan dia yg mampu membuatmu demam hanya karna tangisnya. Beruntung ya dia. Kalau boleh tau, apakah dia someone spesial bagimu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai Anon! Maafkan aku yang baru membalas komentarmu ini, i hope this not make me a jerk.
      Super terima kasih atas penantianmu akan tulisan sederhana di blog ini, karena ga ada yg lebih aku takutkan selain kenyataan jika aku menulis kepada khalayak hampa.
      Anonku ga banyak kok, cuma 1. Tapi anaknya yg banyak, ada empat ekor, yg sampe sekarang aku ga tau di sembunyiin di mana sama emaknya.
      Betul, aku kemaren sempat lupa bersyukur. Dan seburuk-buruknya manusia adalah yg lupa bersyukur. Tapi untungnya teman-temanku baik-baik dan unyu-unyu, juga kalian yg di kolom komentar ini. Kalian bikin aku ingat untuk bersyukur.
      Hei kamu, semua kata adalah puitis. Yang membedakan hanyalah rasa yang kita tempatkan pada kata-kata itu ketika digoreskan. Maka menulislah dengan seminimal mungkin memikirkan aturan-aturan. Ayo nulis! Nanti kasih tau aku ya :)
      Yang membuatku demam adalah rasa takut yang menumpuk dan bermacam rupa. Overthinking, kalo kata bule mah. Dan ya, salah satunya mungkin perihal dia. Spesial? Sangat, karetnya dua dan pake telor bebek hehe.
      Terimakasih sudah ikhlas (semoga), untuk menulis sepanjang ini di kolom komentar. Terima kasih, sungguh. Tulisan yang diperhatikan, terlebih dibaca, adalah tulisan yang memberi hidup penulisnya.

      Hapus