Pages

Sabtu, 11 Juni 2016

Takdir Salju Atas Matahari

Bising macam lebah. Tetap masuk ke pikiran meski aku sedang tak ingin. Aku menebar pandang ke sekeliling; ke lampu gantung, ukiran pilar dan tembok, patung-patung, semuanya indah, meski tetap saja bising. Seorang pria tua sedang tegak di mimbar berlatar merah, mengeraskan suara demi tua-muda dihadapannya. Serta yang lain asik berdebat sesamanya: bising. Sedang pelupuk mataku diberati bayangmu. Hatiku panas macam diungguni, ingin kubuka rasanya kancing-kancing kemeja. Bukan hakku untuk marah, memang. Setinggi apapun angkuhnya, makhluk tetap tak punya hak memarahi panasnya cahaya yang ditimbulkan matahari. Kenapa? Karena cahyanya menghidupkan bumi! Meski keling legam kulitnya nanti.
Berita tentangmu telah tiba padaku bak gemuruh ombak yang membuyar diri. Dan kini, urusan politik kupersetankan, karena semua terasa bising macam lebah, tak kupahami lagi bahasanya. Detik ini dan mungkin hingga beberapa detik kedepan, alam pikirku akan berisi doa-doa kebaikan untukmu, meski bukan seperti yang kuharapkan. Otakku membungkus tiap doa-doa dengan sajak C.A.
“…Karena kau tidak ‘kan apa-apa
Aku terpanggang tinggal rangka”
Siaplah ku kirimkan. Selamat, dengan tulus ku ucapkan. Kau akan terus memberiku kehangatan, aku yakin. Meski pada hidup yang berbeda, aku harap kita tak menjadi asing. “Sedang aku mengembara serupa Ahasveros”.
Dan sesuai takdirnya, matahari berbahaya bagi salju, bahkan dalam sayang sekalipun.



Moskow, 1967, dalam dingin yang membara

Tidak ada komentar:

Posting Komentar