Pages

Selasa, 29 April 2014

Untuk Anies Baswedan

Jikalau nanti akhirnya bapak mengadakan rapat umum, atau kampanye,
maka biarlah nanti hanya ada panggung sederhana,
tanpa atribut berlebihan dan pejabat pejabat,
tanpa dangdut dan artis-artis.
Kami akan datang.
Bukan untuk berjoget,
bukan bernyanyi,
apalagi untuk duit sekedar
dan sebungkus nasi.
Kami akan datang.
Untuk mendengar beliau berbicara tentang ibu pertiwi. Tentang penyakit dan obat untuk menyembuhkannya.
Kami akan datang, untuk dibakar semangatnya.
Kami akan datang, untuk dibuka mata hatinya.
Kami akan datang, untuk membantu beliau menuntaskan janjinya pada bangsa.
Sukarela.
Seperti halnya dulu rakyat berbondong ke lapangan ikada, hanya untuk mendengar putra sang fajar berbicara.

Rabu, 23 April 2014

Don Soeharto Cendaneone

Malam tadi saya nonton acara yang berjudul Memoar di Kompas TV. 
Temanya tentang Ibu Tien Soeharto.
Saya sedikit tersentak. 

Saat itu, saya melihat Jenderal Besar Soeharto sebagai sosok suami dan bapak.
Bukan sebagai Jendral dan Tiran yang memerintah dengan tangan besi selama 32 tahun.
Bukan juga sebagai orang yang telah mengkomandoi pembantaian jutaan rakyat Indonesia pasca G30S '65.
Ya, saya selama ini kontra dengan Soeharto. Saya mengecam seluruh tindakannya.
Tapi malam ini, saya merasa curang. Saya tidak pernah mau mencoba melihat Soeharto dari perspektif lain, selain dari dia sebagai diktator.

Tentu, fakta bahwa rezimnya adalah rezim yang penuh darah dan korupsi, kolusi, serta nepotisme adalah tidak bisa disangkal lagi.
Tapi itu adalah ketika Soeharto menggunakan topeng Jenderal besar nya.
Ketika di rumah, saya rasa dia berbeda. Terutama ketika dihadapan Tien, istri tercintanya. Atau dihadapan anak dan cucunya. 
Saya teringat sosok Don Vito Corleone, sosok fiktif yang sangat saya idolakan. Padahal, saya sadar, selama ini saya hanya melihat Don Vito sebagai sosok kepala keluarga. Saya menolak melihat sosok Don Vito ketika beliau memakai topeng La Cossa Nostra nya.

Lucu bagaimana kita terkonsumsi dengan kebencian sehingga kita menolak untuk melihat sesuatu yang jelas, atau sengaja mengkaburkannya.
Tentu, keadilan diatas segalanya, tapi bukankah kemanusiaan adalah hak yang paling dasar?
Menolak melihat keseluruhan sisi manusia sama saja dengan menyangkal kemanusiaannya. Lalu kita anggap dia sebagai setan, atau malah dewa.

Keadilan tetap harus diperjuangkan, tapi bukan berarti harus menolak melihat kenyataan.
 The Smiling General harus tetap dibongkar kejahatannya, seperti halnya sang Godfather yang harusnya bertanggung jawab atas semua darah yang ditumpahkan.
Tetapi, melihat mereka sebagai sosok manusia yang memperjuangkan cita-cita dan ambisi adalah hal yang menarik, tanpa harus mengenyampingkan fakta yang ada.
Mereka adalah sosok pria tua yang menghalalkan segala cara demi melindungi dirinya, dan keluarganya.
Yang ketika Anak pertama / Istrinya meninggal, mereka tetap berduka.

Bagaimana dengan kita?
Berapa banyak koleksi topeng di lemari batin kita?

Minggu, 20 April 2014

2-3 menit

Bangku kayu ini sudah lapuk.
Tidak terlalu nyaman, sih, tapi setidaknya aku bisa duduk. Lembab kayu terasa merembes ke balik celana, dingin di pantat. Bah, hujan tak kunjung berhenti pulak!

Aku berada di sebuah warung di pinggir jalan.
Warung tipikal yang ada di pinggir jalan: dari gerobak, berdinding kayu dan plat, disampingnya ada bangku kayu beratapkan terpal yang diikatkan ke atas gerobak. Biasanya dipakai untuk pelanggan warung yang duduk sembari ngopi. Atau sekedar jadi tempat duduk orang-orang yang berteduh karena hujan, seperti aku, yang karena "ga enakan" akhirnya membeli sesuatu dari warung si penyedia fasilitas.

Warungnya tutup. Entah karna hujan atau karna rumah si empunya lagi terendam banjir. Tak tahulah. Yang jelas, rencana beli rokok dan kopi sembari nunggu kucuran air dari langit ini berhenti batal sudah.
Bosan juga. Hampir 60 menit pula duduk disini. bukan apa - apa, kutakut bangkunya tak kuat lagi nahan pantatku yang seksi. Motorku yang baru saja di cuci (sial) pagi tadi, macam menggigil di bahu jalan. Lirik jam sedikit, ah, sudah hampir maghrib pula.

Tapi suasananya romantis juga. Permukaan jalan berasap dihantam hujan, pepohonan mangut-mangut digelayut angin, jalanan sepi-lurus-panjang, dan tetesan-tetesan air dari tepi terpal.
Ah, akan tambah romantis kalau lampu jalan mulai dihidupkan. Tapi suasana ini membawa rasa lain selain indah. Rasa yang membuat kau memandang ke langit kelabu, lapang, luas. Memandang tanpa alasan, tanpa pertanyaan.

Heh, dunia itu aneh. Kau tak pernah tau bagaimana hidupmu yang menyedihkan itu bisa berubah drastis dalam sekian menit ke depan. Pikiran kita selalu dibiasakan untuk mempersiapkan diri berdasarkan ramalan jangka panjang. Cita-cita, rencana, peta kehidupan. Tapi, kita cenderung melewatkan pikiran tentang apa yang terjadi dalam 2-3 menit kemudian.
Kita cenderung menganggap, kalau waktu yang sedemikian singkat tidak akan membawa perubahan yang signifikan dalam hidup.

Padahal, kita tidak pernah tau, dalam 2-3 menit tersebut, hal apa yang akan muncul dari persimpangan jalan. Seperti mobil yang tetiba datang, dan menabrak warungku, bangku reyotku, motorku, 2-3 menit setelah aku melirik waktu di jam tanganku tadi.

Ah, sekarang, tak lagi perlu ku khawatirkan hujan.

Sabtu, 19 April 2014

Jauh

Takkan sampai bangun tangga kebulan, keburu mati di tengah jalan.
Takkan habis masa di jalan, jika takda tangga ke bulan.
Jatinangor, 20 Apr '14

Sabtu, 12 April 2014

Saudara

Bukan dengan darah diikat
Tapi dengan hidup dikebat
Erat

Sama badan dipapar terik
Sama hidup dikuyup hujan

Bersama menentang raja kemunafikkan
Bersama

Jika kau berdarah, aku berdarah
Bukan dengan darah kita diikat
Tapi dengan hidup kita dikebat
Erat.

Jatinangor, Nov '12


Tulisan ini diposting setelah liat time line nya akun @yeahmahasiswa yg bikin galau.

Sadar bahwa waktu mungkin akan habis, tapi memori akan kekal.
Sahabat, kau lah yg membawa debar dalam jantung waktu ku.

Mungkin kita tak kan selamanya bersama. Kau dan teman baru mu, aku dan dunia baru ku.

Tapi, saat nanti kita baru pulang kerja, mencium anak kita yg sudah tidur, melihat istri/suami kita di ruang tv, kita mendadak flashback ke masa-masa dulu,
dimana kita nongkrong tanpa kenal waktu, ngobrol tanpa kenal tema, ngomong tanpa kenal sensor.

Kita akan cari album foto lama yg tersimpan di harddisk bertahun-tahun.
Saat ituah kita ingat, kita pernah bersama, bicara tentang mimpi gila kita.

Mendadak muncul hasrat ingin menanyakan kabar, ingin mendengar suara lama.
Saat itu juga kita buka smartphone kita, kita pencet nomor kontak yg lama tak dibuka, ah, nada sambung berbunyi...., yg hanya dijawab oleh operator....


Mungkin nomor kontak kita telah berbeda.
Mungkin kita telah berbeda...

Mulai Berberes

  Banyak orang, yg terus-terusan mengeluh tentang betapa kotor dan berantakan rumahnya. 
Tapi saat ditanya kenapa ga ambil sapu dan mulai berberes, dia bilang:  "males ah, dibersihin juga bakal kotor lagi" atau "males ah, udah terlalu kotor ga bakal bisa bersih lagi" 
atau "males ah, rumah orang juga kotor kok" atau "males ah, ntar suruh pembantu aja" .
Lah, ini rumah siapa? kok malah nyuruh orang lain

Mengeluh tanpa bertindak. 
Mengkritik tanpa memberi solusi. 
Marah tanpa tujuan. 

Dan ketika kita merubah subjek nya dari "Rumah" ke "Negara" , orang macam tadi bakal lebih banyak lagi kita temui. 
Bisa saja anda, bisa saja saya. 
Sekarang pilihannya adalah: maukah kita berubah?

Mungkin ada yang bilang, "Susah, karena masalah di negara kita beda sama negara lain. Negara kita lebih kompleks".
Tentu ga ada yg bisa disamain dengan spesifik. 
Tapi dalam hal tertentu, banyak kok. 
Dalam hal ketidakmerataan pembangunan dan ekonomi: India misalkan. 
Dalam hal korupsi: Thailand misalkan. 
Tentu setiap negara punya masalah endemis masing - masing, tapi akar rumput permasalahan selalu sama; apatis. 
Seperti yang Edmund Burke bilang :
"All that is necessary for the triumph of evil is that good men do nothing"




*Tulisan ini terinspirasi dari lirik lagu mas Pandji Pragiwaksono yang berjudul "Tangan Kotor" dari album "Merdesa"

Kamis, 10 April 2014

Bandung - Nangor

  Rinduku terperangkap jalan gelap.
Cahya temaram terbias gerimis yang sendu.
  Aku rindu pulang.
Dimana jalan berbatu berumput, bukan beraspal berlubang.
Ujungberung, 7 Apr 14

Senin, 07 April 2014

Sastra

Sastra adalah hasil dari bentuk perjuangan.
Perjuangan manusia untuk dirinya, dan manusia untuk manusia lain. Contohnya adalah, kita akan banyak menemukan karya - karya sastra yang sangat kuat dari rakyat - rakyat yang berasal dari daerah monarki.
Bukan berarti tidak ada karya sastra yang muncul dari kaum bangsawannya, tapi, ketika kaum bangsawan berkarya karena berjuang dari dirinya untuk dirinya sendiri, sastra rakyat biasanya berjuang dari dirinya untuk orang lain, yaitu rakyat.
Semakin kuat tertindas, semakin kuat berkarya.

Kata

Kata diciptakan manusia sebagai alat untuk mentransformasikan perasaan dari bentuk abstrak, ke bentuk yang bisa diketahui oleh manusia lain, karena ungkapan yang diberikan mimik sangatkah terbatas.

Kata kata yang rumit mewakili perasaan yang rumit. Kata kata yang enteng mewakili perasaan yang sederhana, bukan berarti tak dalam.

Untuk mengungkapkan perasaan tak perlu di batas batasi sesuatu, cukup kau cari kata yang menurutmu sesuai dengan perasaan yang ingin kau sampaikan.

Satu lagi, kata yang kau pilih mencerminkan wawasanmu. Tak perlu berbohong dengan diri sendiri, cukup muat kata yang kau sendiri mengerti. Koreksi diri: kurang kata, kurang wawasan. Perluas duniamu untuk memperluas kata katamu.

500

Kurang-kurung kurang-kurung
Manapula belum keluar
Sedang perut celoteh kasar
Lapar-lapar-lapar-lapar
Kurung!

Kurang-kurung kurang-kurung
Manapula simelati
Banyak rasanya kuisi
Sebiji sebiji sebiji sebiji
Kurang!

Kurang-kurung-kurang-kurung
Manapula cukup tukar nasi
Sedang air masih harus beli
Lagi dan lagi dan lagi
Kampang!

Otak ku kurang rangsang dipasung sungguh habis sisa akal kalah hati tidur duri rintangi ngisi siapa aku kutanya nyatanya nyamuk KauAku kurung. Kacung!

Heranlah kau sama kau
Hidup terkekang dalam kurang terkukung dalam kurung, macam macan dalam karung atau mutiara di cangkang kerang.

Heranlah kau sama bapak
Berjuang cuma sama kacang, bertarung cuma sama jagung, tak pusing kurang pun kurung


Kurang-kurung kurang-kurung
O Sri manapula lagi
Ah, sepertinya dialah ini
Congkeli congkeli congkeli congkeli
Kancing!


Jatinangor, 31 maret 14.

Ironi dua orde

Orde lama: ketika founding father yang bersikap anti imperialis, anti fasis dan anti kolonialis, malah cenderung memilih cara memimpin yang bersifat raja - raja .

Sedangkan orde baru: dipimpin jenderal besar yang seakan pembebas dan pembawa panji - panji demokrasi sekutu, malah berubah diktator ganas, hampir mirip jenderal aladeen dari wadiya, tanpa janggut dan komedi sarkasnya tentu saja..

Isn't it?

More we thinking about something, more it become a paradox.

Minggu, 06 April 2014

Kamp Konsentrasi Indonesia

Sukarno ga pernah bikin camp tahanan untuk lawan politiknya.
Memenjarakan iya, camp tahan tidak.
Tapi Suharto merubah 1 pulau sebagai camp tahanan untuk ribuan orang yang belum pernah diadili. Bahkan lebih buruk dari Boven Digul-nya Belanda.

Ya kan?

Kalo memang mainstream berada di arus yang baik, kenapa harus jadi hipster?

Belajar dari Hitler

Hitler dan tentara Reich ketiga tumbang, bukan karena ganasnya sekutu, tetapi karena kesalahan perhitungan, kesombongan, dan ketamakan. 
Over percaya diri dan mendengar saran yang salah. Hitler mendengar saran dari jenderal jenderal pengecut, yang hanya mengiyakan semua ide Hitler, tanpa berani membantah, pun ide tersebut terkadang ngawur, malah cenderung seperti halusinasi. 

Kemana jenderal pemberani? Ke garis depan.

Hasilnya adalah Reich ketiga tumbang di tanah dingin, Stalingrad, Rusia. Hadiah natal yang sangat dinginkan, tapi berakhir sebagai tumpukan mayat, setengah karena peluru, setengah karna beku. 

Tentara Jerman jauh lebih kuat, dengan persenjataan yang lebih canggih dan taktik yang mumpuni. Sedangkan Rusia bisa dikatakan hanya mengandalkan jumlah tentara besar - besaran, para pemuda yang diwajibkan untuk membela Motherland, yang konon katanya sebagian dari mereka bahkan tidak memegang senjata, hanya bermodalkan badan.
Tapi, keuntungan pun berbalik, setelah makna perang ini berubah. Perang ini menjadi perang ego personal antara sang Fuhrer Hitler, dan Kamerad Stalin. Bukan lagi untuk negara, terlebih untuk ideologi.
Hasilnya? Bertumpuk mayat tentara merah di medan tempur.
Pun, sang Reich ketiga dipaksa putar balik dengan hampa.

Jadi, dimana belajarnya? Belajarlah bahwa, memaksakan kehendak itu adalah hal yang buruk. Belajarlah bahwa mengelilingi diri kita dengan pemuja - pemuji tidaklah membuat diri kita lebih baik. Belajarlah bahwa kritik itu pahit seperti obat. Belajarlah membedakan mana kebutuhan, mana sekedar keinginan. Belajarlah membedakan antara kepentingan pribadi dan yang bukan. Belajarlah menahan diri.
Belajarlah bahwa salju itu dingin.
Klise?
Memang.
Tapi, belajarlah.

Sabtu, 05 April 2014

-

Pancaran lampu murah itu penuhi kamar.
Memantul cermin, menerpa wajah, silau.
Seketika aku mampu mengingat samar.
Menguap batin, nelangsa jiwa, galau.

Jumat, 04 April 2014

-

Dada masih saja sesak, mulut masih ingin bersajak. 
Sedang detak jam makin mengeras, bising sirna, pulas. 
Ini karna kau. 
Semua hanya kau!

Kita

Jikalau saja sudah tiba senja, aku melamun. 
Akankah nanti garis lurus ini bersentuh?  Atau semesta saling bersetubuh? 
Bisakah sajak sajak kita berpaut satu?