Pages

Sabtu, 21 Mei 2016

Purnama Petang

Raya jalan yang mulai memadu remang
Jalur kampus yang teduh pasca hujan
Aku terhisap lamunan petang
Yang berpusing segala macam;
Haru, takut, ria, gugup
Semua pemandangan telah berubah arti

Sudah bukan aku lagi
Sudah berbaur bermacam hati
Dan sore berubah sama sekali
Kini, purnama cepat digantung petang
Penuh-Pasi memuncaki Geulis
Melihat aku disini seperti terbuang
Melihat aku disini tersisa habis

Sudah bukan aku lagi
Khazanah dunia ramai-ramai mengisi batin

Arboretum, 20 Mei '16

Minggu, 15 Mei 2016

Sore-Sore

Kamu tatap saja sore-sore itu
Lalu sadarkan: kamu akan hilang
Perlahan tak secepat awan
Perlahan selaju semesta
Kamu tetap ada sebagai diri
Serta mungkin bagi beberapa lain
Tapi tak lagi sebesar cita mu dulu
Tapi mati dalam pikiran sendiri
Karena ya itu,
Kamu tatap saja sore-sore itu

Senja Biru, 13 mei '16

Minggu, 08 Mei 2016

Maaf

"Karno mati !?" Agam berteriak setengah tercekik. Mendadak bebulu halus di tangannya berdiri, dan kulitnya menebal berbintik menutupi pori-pori. Agam lalu lemas melisut di lantai, bersimpuh. 
"Kapan ?", tanya Agam tanpa menatap orang yang sedari tadi masih tegak saja di hadapannya.
"Tadi pagi, aku baru terima kabarnya kira-kira bakda zuhur tadi. Gam, kita semua sedih, tapi ini tentu sudah takdir Tuhan, Gam".
Takdir? Agam merasa tak asing dengan kata itu. Tak terpikir mungkin bahwa kata yang seharusnya baik itu sekarang diterimanya dengan buruk. 
"Ya, takdir", sahut Agam sembari bangkit perlahan dengan berpegang pada knop pintu tempat ia bersandar lemas. Lalu ia memutar knop untuk masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintu sambil terus memunggunginya, tak peduli sang pengabar tadi berteriak memanggil namanya di balik pintu sana.
Agam lemas kembali ketika mengaung lagi di kepalanya kata-kata "Karno" berpasangan dengan "mati". Dan kembali merosot ke lantai, ia menutup  mukanya dengan kedua tangan, dan menangis, terlebih ketika wajah Karno terngiang dalam gelapnya pejaman mata. Karno adalah sahabatnya dari kecil, dan kemarin, Karno meninju wajah Agam hingga darah meluber di bogemnya. Agam sekarang meraung, dan azan ashar mengisi rongga-rongga udara.
************
"Anjing", karno meludah, "aku berkawan sama binatang rupanya"
Bogemnya berlumuran darah yang menetes ke tanah kering lapangan bola. Dilihatnya kepalan itu, lalu dilapnya dengan baju.
"Muncul lah lagi kau di depanku, ku cabut rusuk kau", gumam Karno keras sembari melangkah pergi. Agam masih berbaring menentang terik siang, dengan pelipis dan hidung yang banjir darah. Sebenarnya ia masih bisa bangkit untuk membalas sekedar 2-3 pukulan, tetapi ia tertahan di tanah lapang itu karena ia sadar, candanya telah melewati batas. Mengolok istri yang baru dikawini sahabatnya itu keterlaluan, meski istrinya juga adalah teman mereka, bahkan juga pernah berkasih dengan Agam. Tapi maaf kebapa sulit sekali meluncur dari mulut? Terhalang besarnya malu dan ego yang terlalu tinggi? Agam menatap langit yang siang itu bersih dari awan. Terik matahari seperti punya bunyi: mendesing. Ia menggapai rumput kering di jangkauan tanggannya yang ia lebarkan itu, digegamnya, lalu ditariknya hingga tercabut dari akar. Lalu Agam bangkit terduduk, dilemparnya rumput digenggamannya itu ke udara.
                                                                ************
Azan maghrib berkumandang, menarik agam keras-keras dari lamunan setengah mimpi itu. Agam tersentak, dan menyeka air matanya. Nyeri di pelipisnya masih terasa, nyeri yang kembali mengingatkannya atas sahabatnya yang telah mati, dan dirinya yang memikul dosa yang amat berat tanpa sempat meminta maaf, dan tidak akan lagi ada kesempatan sampai kapanpun karena Karno telah mati, mati! Agam menangis lagi dan isaknya berduet aneh dengan dengungan azan. Lalu Agam berdiri tiba-tiba, melangkah menuju sumur belakang rumah. Sesampainya di sumur ia gamang, mencoba mengingat-ingat bagaimana tata cara berwudhu. Terakhir kali ia berwudhu dengan benar waktu kelas 6 SD, saat ujian akhir mata pelajaran agama islam. Setelah teringat olehnya, ia mula membasuh bagian tubuhnya, lalu melangkah ke kamar dan mengeluarkan seperangkat alat sholat yang berdebu dari laci pucuk almari, dan sembahyang maghrib. 3 rakaat diselesaikannya, lalu ia tepekur, diam tanpa doa, malah yang ada kutuk serapah yang ditujukan untuk dirinya sendiri. Agam kembali menangis, meskipun sekampung tahu bahwa Agam bukanlah pemuda cengeng, malah ditakuti oleh warga karena kerap mabuk dan berkelahi sejak dari SMA. Dan dalam tangis kesekian kalinya itulah ia mengangkat tangan, berdoa dalam linangan air mata perkasanya itu. Doanya didominasi oleh kata maaf, kepada Tuhan, ibunya, dan Karno. Untuk Karno, maaf ini diulangnya sekian banyak. Entah karna dia tak hapal doa lain atau memang itulah doa yang ia inginkan paling-paling. Ia terus mengucap maaf hingga azan isya menjelang. Dan ia merasa maaf nya belum sampai kepada tujuan, maka ia kembali berwudhu dan sholat isya, dimana setelahnya ia tepekur hingga subuh, dan bakda subuh ia tepekur hingga zuhur. Terus begitu hingga tiga hari tanpa tidur, makan atau minum, hanya sisa air wudhu yang tanpa sengaja  mengalir masuk ke kerongkongannya.
Pada isya hari ke empat, dalam tepekurnya ia tertidur. Dalam tidurnya ia tak lagi berada di kamarnya yang sumpek berbau rokok itu, tapi ia ada di depan SDN 04, mantan sekolahnya dulu, menunggu ibunya menjemput. Ibunya telah terlihat di pengkolan jalan, agam ingin berteriak memanggil beliau tapi suaranya hanya sampai pada pangkal lidah. Ketika sudah dihadapan, ia sadar ibunya masihlah muda, tidak seperti yang ia ingat. Ibu menggenggam tangan agam dengan lembut dan mengangdengnya pulang. 
"Ibu dengar kau berkelahi lagi?". Agam diam.
"Dengan siapa?". Agam diam.
“Bukannya ia temanmu?”. Agam mengangguk.
"Kalau begitu, berdamailah dengannya". Agam menunduk.
"Mau kau berdamai dengannya nak?". Agam diam.
"Mau kau bertemu dengannya, minta maaf?". Agam berteriak, matanya terbuka, keringatnya membasuh dari kening hingga dada, dan nafasnya macam nafas kuda. Agam kembali ingin menangis, tapi ditahannya itu mata air ketika ia sadar, ia tidak lagi berada di kamarnya. Ia berada di sebuah jalan, “bukankah ini jalan gang depan rumah?”, pikir Agam. Ia melangkah kedepan, kebingungan, menuju pos ronda ujung gang yang di sana terlihat ada seseorang. Agam ingin sekali bertanya kepada orang itu meskipun belum tahu apa pertanyaannya. Ia menyeret langkahnya hingga tiba di hadapan pemuda berpeci-berbatik yang sedang mengepulkan asap itu. Mata Agam membelalak sebesar-besarnya ketika raut pemuda itu terlihat jelas.  Itu Karno! Dan Karno pun berteriak sekencangya ketika melihat rupa Agam.  "Agam! Kau masih hidup ?!"

Biru, 8 mei '16