Pages

Minggu, 28 Februari 2016

Mengganggu

"Kamu terlalu membangga-banggakan hal yang remeh, kecil", kata cermin.
Biar sajalah, pikirku.
Yang penting itu hal-ku bukan hal-mu atau mencuri-tiru hal siapapun.
Bukankah kita sejatinya adalah susunan dari hal-hal kecil yang remeh sepertinya?
Yang bertumpuk menjadi ciptaan Tuhan tiada tandingan.
Lalu dengan keremeh-temehan itulah kita berjumawa di atas bumi manusia, mencatatkan nama-nama besar raja-maharaja di dinding tebing yang tinggi-tinggi, yang dibawahnya berserak tengkorak dan tulang tungkai dari mereka yang telah berpijak dan diinjak.
Maka biarlah aku dan hal-hal ku dalam suatu kenikmatan meski semu.
Dan kau, cermin, berhentilah mengganggu akal.
Balik sana ke duniamu,
demi langit,
aku tak ingin tak berani atas perintahmu.

Senin, 22 Februari 2016

Siapa Namamu?

Hari ini dinginnya luar biasa. Hujan sudah deras sejak adzan maghrib berkumandang, dan hingga sekarang masihlah sama derasnya, meski malam sudah semakin lanjut. Sempat malas untuk berangkat, karena kalau bermotor di cuaca seperti ini pastilah basah kuyup sampe ke dalam. Untung saja Panca mau mengantarkanku ke pool travel meski tau konsekuensi yang akan dihadapinya, bahwa mobilnya bakal kejebak macet yang selalu hadir berbarengan dengan hujan deras di kota ini. Tiba di pool pukul 9.45, rencanaku untuk mengejar keberangkatan pukul 9 sudah pasti gagal. Ah, bisa sampai ke pool saja aku harusnya sudah bersyukur dan berterimakasih kepada Panca yang tetap tenang ngadepin macet yang kayak berenti total tadi, yang bete malah aku.

Mau tidak mau aku membeli tiket untuk jadwal keberangkatan selanjutnya, yaitu pukul 10. Okelah, pikirku, hanya menunggu sekitar 15 menit ga akan menyakitkan. Ternyata, berpikir positif belum cukup untuk bikin nasib membaik, apalagi di tengah cuaca yang seperti ini. Kabar terbaru yang masuk adalah mobil yang dijadwalkan berangkat jam 10 harus ditunda keberangkatannya karena masalah teknis yang diakibatkan hujan yang demikian derasnya. Harus apa lagi selain menghela nafas dan lanjut menunggu bersama calon penumpang lainnya, dan sekarang jam baru berganti ke 10.27. Malam ini gelapnya ga kalah pekat sama kopi gayo tubruk original.

Diantara suara hujan yang berisik, dan obrolan calon penumpang lain yang berbisik, kayaknya tanpa sadar aku tengah melayang diantara tidur tapi tetap sadar dan kaget, ketika namaku dipanggil oleh petugas travel. Aku yang terkejut mendengar namaku yang diteriakkan kencang, tersentak bangun, seperti roh yang tadi melayang ditarik masuk kedalam badan dengan terburu-buru. Jadi sedikit pusing, tapi langsung aku berdiri dan menghampiri petugas tadi untuk mengkonfirmasi. Masih dalam kantuk dan sekarang ditambah pusing, aku hanya menjawab cepat “ya, saya widya mas”, dan petugas menjawab dengan mempersilahkan aku untuk naik ke mobil sembari menunjuk kearah mobil yang terparkir di sebelah kanan. Semua mobil di parkiran sepertinya akan berangkat berbarengan, mungkin karena hujan juga sudah sedikit mereda. Suasana agak sedikit riuh dengan raung mesin mobil-mobil dan suara orang yang ngantri masuk ke dalamnya. Semua orang berlari kecil dari ruang tunggu ke arah mobil di parkiran menghindar hujan yang walaupun udah agak reda, tapi masih aja bikin basah, kecuali seorang perempuan yang dari tadi cuma berdiri di samping mobil yang berada di kiri sisiku. Ga takut dingin ya mbak?

Aku langsung nurut aja sama mas petugasnya karena ngantukku masih parah. Aku diarahkan ke seat di barisan paling belakang karena sepertinya antrian tiket ku tadi memang bernomor buntut. Ga apa-apa lah, pikirku, toh disebelahku juga bakal kosong sepertinya, jadi aku bisa tidur dengan leluasa. Mobil mulai berjalan, dan saat aku menyolokkan headset ke handphone, sempat kulirik jam di sudut kanan atas layar yang menunjukkan pukul 10.52. sudah jam segini aja, pikirku, untung nanti pas sampai aku ada yang jemput. Saat headset sudah nyantol dengan nyaman di kuping, aku memilih lagu yang pas sebagai awal pengantar tidur. Sempat kudengar suara seperti orang pilek dan ingusan, eh, atau menangis? Suaranya seperti dari barisan yang ditengah, ah bukan, dari depan deh kayaknya. Aku melongok sedikit ke depan karena penasaran, tapi kayaknya semua udah pada nyantai, malah ada yang udah tidur. “Mungkin suara radio aa supirnya”, kataku berdialog sendiri. Lagu ku pilih, dan aku langsung memejamkan mata. Secepat rintik turun dari langit, secepat itu juga aku tertidur.
**********
Mimpiku absurd. Aku seperti berada di sebuah ruangan, kelas kayaknya, dan aku duduk menghadap ke depan. Di sebelahku duduk perempuan cantik dan wangi sekali, tapi aku sama sekali ga kenal, dan rambut serta bajunya terlihat basah. Ia terlihat sedih. Tangan ku bergerak kearah bahunya untuk menyapa dan menenangkannya. “Gubrak!”, mobil berguncang hebat. Masuk lubang sepertinya. Aku jadi terbangun sebangun-bangunnya. Mimpi yang aneh, pikirku, pasti karena tadi pagi di kampus riweuh. Aku jadi pusing lagi karena bangun tiba-tiba seperti ini. Aku melepaskan headset, dan tanganku mendekap leherku. “panas…”, aku menggumam sendiri. Ah, jangan sampai aku demam gara-gara kena hujan sedikit tadi. Tapi pusingnya belum hilang.

Aku melihat jam di handphone, 00. 07. Wah, kok lama juga ya? Apa tadi macet? Aku melongok ke depan, kayaknya penumpang yang lain masih pada tidur.
Aku bertanya ke aa supir dengan suara yang di pelan-pelankan “A, ini sudah di mana?”.
“Bentar lagi sampe Purwakarta, neng.”, jawabnya. Aku bingung. Purwakarta? Kenapa ke Purwakarta?
Aku langsung deg-degan, dan tambah pusing, “A, saya bukan tujuan Purwakarta!”.
“Hah, maksudnya neng?”.
A, saya bukan mau ke Purwakarta…” kali ini suaraku mulai bergetar, duh, bakal nangis nih kayaknya.
“Eeh…” suara aa nya kayak bingung, “gimana ya neng? Kok bisa?”. Penumpang yang lain kayaknyaa mulai bangun karena obrolan kami yang gaduh.
“Ga tau aa, tadi nama saya dipanggil, trus disuruh naik mobil ini…”, tuh kan nangis, dan aku pusing sekali.
“Ya udah neng gini aja, nanti sampe pool saya bilang ke kantor, semoga masih ada mobil yang mau balik ke bandung ya neng” kata aa nya mencoba menenangkan. Agak lega sih, tapi masih pusing. Dan sayup-sayup aku mendengar suara pilek atau ingusan atau nangis itu lagi.

Sekitar 5 menit, mobil kami tiba di pool Purwakarta. Hujan sekarang sudah berhenti, yang tersisa hanya dinginnya yang membentuk kabut. Aku turun terakhir dari mobil, dan langsung diajak aa supirnya ke dalam kantor yang sudah sepi antrian, hanya beberapa petugas travel yang bercengkrama. Keadaanku dijelaskan oleh aa supir tadi kepada rekan-rekannya, lalu mereka berdiskusi sendiri, sedang aku hanya berdiri diam, pengen nangis tapi malu.
“Yaudah neng, ga apa-apa, kebetulan ada mobil yang mau balik lagi ke pool Bandung, neng naik lagi aja ya?”, kata salah satu petugas yang kayaknya manajer pool Purwakarta ini.
“Iya pak, ga apa-apa, yang penting bisa balik. Soalnya saya ga ada saudara di sini pak”, jawabku lebih tenang sekarang, karena udah minum teh manis hangat, mungkin.
“Iya neng, tunggu di sini aja ya, bentar lagi mobilnya mutar balik kesini. Soalnya tadi barusan jalan mobilnya”
“Wah maaf banget ya pak merepotkan, biaya tiketnya berapa pak?”
“Ga usah neng, ini juga karena kesalahan petugas kami yang tidak konfirmasi dulu penumpang yang naik. Pokoknya neng tenang aja ya  ga usah pikirin biayanya.”

Ah, syukurlah Ya Tuhan, masih ada orang baik di dunia. Aku jadi lemas karena lega. Aku duduk menunggu di ruang tunggu pool, ditemani teh manis hangat dan beberapa petugas pool yang baik-baik. Sekitar 5 menit, mobil yang dimaksud tadi masuk ke parkiran pool. Aku bergegas naik setelah bersalaman dan mengucapkan terima kasih kepada petugas di pool Purwakarta. Aku duduk di tengah, di belakang kursi bapak supir. Mobil kosong, sekosong-kosongnya, kecuali aku dan bapak supir. Di radio sudah terputar lagu sunda pengisi kosongnya ruangan, dan diantara aku dan bapak supir sepi dalam diam. Terasa ganjil.
“Salah naik mobil ya neng?”, Tanya bapak supir tiba-tiba.
Aku kaget, “eh, iya pak. Tadi nama saya di panggil di suruh naik mobil ini, saya kirain teh bener ini mobilnya.”
“Oh, salah panggil ya?”
“Iya, pak”
“Nama eneng Widya?”
“Eh, kok tau pak?” Lagi, aku kaget.
“Soalnya dari kemaren ada 3 orang yang namanya sama kayak eneng gitu, salah naik mobil. Dan semua sama ceritanya, karena namanya dipanggil petugas.”
“Semua namanya widya, pak? Kok bisa gitu pak?”
“Iya, kayaknya udah 3 malem ini ada yang namanya widya beli tiket travel ke Purwakarta, tapi ga pernah dateng, makanya suka salah panggil. Kan yang namanya widya banyak ya? Hahahaha”

Aku mendadak merinding. Selanjutnya obrolan dengan bapak supir beralih ke hal-hal mistis nan serem di sekitar Purwakarta, tema yang sangat-amat aku benci. Aku hanya menjawab seperlunya saja, dan sepertinya bapak supir sadar aku ga suka, sehingga ia menyuruhku untuk tidur saja. Aku kembali menyolokkan headset dan memilih lagu, dan diluar mulai hujan lagi. Lagu sudah diputar. Seharusnya dengan cuaca seperti ini tidur adalah hal yang sangat mudah, tapi pusing masih mengganggu ku. Sepertinya aku akan demam. Maka aku hanya mendengarkan lagu sambil bersandar dan menatap ke luar jendela, seperti video clip lagu-lagu cinta.

Pikiranku mengolah kembali cerita bapak travel tadi. Jika ada orang yang sama membeli tiket travel dan di cancel, masa  berulang hingga 3 kali? Dan tidak mencoba menghubungi pool travel-nya untuk mengkonfirmasi? Aneh juga, dan menghabiskan uang tentunya. Mendadak jadi kesal juga sama petugas travel yang tidak mengkonfirmasi dulu penumpang yang naik, kan kurang professional. Tapi setidaknya bapak manajer pool Purwakarta tadi orang yang baik, mungkin dia bisa melaporkan kejadian kayak gini agar tidak terulang kembali. Pikiranku melayang, sembari melihat lampu-lampu jalan yang melintas cepat menyinari rintik hujan yang kembali deras. Tiba-tiba aku merasa dingin. Ada jendela yang terbuka? Atau AC nya terlalu tinggi nyalanya? Ada wangi yang semerbak memenuhi mobil. Mendadak tanganku yang tergeletak di samping tubuhku terasa dingin sekali, membeku, dan berat. Aku menoleh.
Di sebelahku, duduk perempuan cantik sekali, ia menangis, sedang tangan dinginnya erat menggenggam tanganku. Rambut dan bajunya basah, perlahan ia menoleh ke arahku, tersenyum, lalu bertanya, “Hai Widya, nama kita sama, ya?”.

Aku tersentak terbangun. Kepala ku berat sekali, dan perempuan di sebelahku ikut kaget juga. “Bisa-bisanya lo tidur pas lagi kelas, wid!”

*Based on true event and story*


Rabu, 17 Februari 2016

-

Perlahan mati ketika tumbuh
Berkenan saja salahkan hari
Hai! cerita tak kan lari
Meski sibuk kita menari
"Patah tumbuh, hilang berganti"?
Tentu, sayang
Tetap 'kan berbunganya nanti
Meski, petang
Ketika tumbuh, perlahan mati
Bukankah begitu?

Biru, 18 'Feb '16

Senin, 15 Februari 2016

Dialog pagi II

Kopi mu kurang kuat,
Katanya
Kutanya, mengapa?
Sambil kepala terangkat
Menuding,
Kau masih mimpi,
Jawabnya garang
Diri jadi berang (?)
Terserah aku (!),
Kuhardik kalbu,
Masih pagi ini
Belum terang lagi
Mana mimpi mana mati

Biru, 16 Feb '16

Dialog pagi I

Pagi pasi
Paduka pucat sekali
Macam diungkap semua dosa
Atau karna kurang darah
Tetapi peduli amat,
   "Hari ini nggak keramat"
Dasar makhluk sial
Untung dikasih akal
Paduka tetap memuncak hari?

Biru, 15 Feb '16

Selasa, 09 Februari 2016

Dalam Pagi yang Kelabu

                                                                      Jatinangor, hari kedua februari

Angka menit baru  saja berubah, menjadi  44 di pukul 8 pagi ini. Kopi sudah setengah diseruput, dan keadaan medsos sudah semua di cek. Pagi ini masih mendung, sedang playlist memutarkan sampai jadi debu-nya Banda Neira.
Sendu, pagi ini, di tengah balutan mendung yang sepertinya telah jatuh dari subuh. Dan orang-orang pun sepertinya tau: jalanan Sayang tak se-raya biasanya. Memandang ke luar jendela dari meja kerja kadang merupakan hal yang memabukkan. Entah apa yang ditangkap dari pemandangan yang itu-itu saja, tetapi bisa membuat terlena hingga sekian menit, sedang yang dipandang hanyalah atap-atap seng tua dibawah langit yang tak berubah warna.
Aku bersyukur diizinkan untuk merasakan indah dan keindahan, bahkan dalam hal-hal kecil yang kadang luput dari apresiasi. Lihatlah, putaran asap hawa kopi yang berputar menggelung dari atas cangkir, berarak ke atas lalu hilang saja dalam jarak yang pendek, semuanya dibalut mendung pagi dan sendunya lagu. Hah, asap kopi, tercipta sebentar saja untuk hilang membaur bumi.
Maafkan aku yang sendu di pagi yang kelabu. Aku bingung atas masa hidup yang dianugrahkan di antara waktu-waktu yang berjalan, mengancam.


Tanda Bertanya

Aku kembali berkaca
Yang tampak bukanlah muka
Melainkan tanda tanya
besar, menarik-narik ujung kuku
Menggaruk nafsu
Menggurat sendu
Pada kulit halus yang semu
Waktu tudingnya menggelegar
Gonjangkan bebenda kamar:
"Hai aku, pantaskah kamu?"

Biru, 9 Feb '16

Senin, 08 Februari 2016

Seperti Salju, Matahari pun Tidaklah Abadi

“Salju lagi…” gumamku sengaja, seakan angin adalah makhluk yang dapat diajak bicara. Dengan nada gumaman seperti mengeluh tetapi pula seakan bersyukur, komentarku menandakan aku akan kembali keluar terpapar dingin Moskow, yang telah memulai musim dingin 1967 dan sepertinya akan kembali panjang.
Menyambar mantel, syal dan ushanka yang seperti beku tergantung di tiang gantungan belakang pintu. Benar saja, ketika pintu tersingit sedikit, angin dingin disertai beberapa kristal salju masuk memutar diantara sela pintu dan menuju ruangan, setelah sebelumnya menghantam kulit muka yang tidak terlindung apa-apa. Membekukan, padahal perapian ruangan belum dimatikan. Sebenarnya, tiap langkah keluar ditengah musim seperti ini adalah berat sekali, meskipun tugaslah yang mengharuskan. Maka aku kerap bingung atas keinginan orang-orang kampung halaman yang menyanjung-nyanjung salju seakan ia adalah suatu hal yang memberikan kehidupan. Tapi begitulah kita, kerap meningggikan atau bahkan merendahkan sesuatu hal yang belumlah kita ketahui benar dimana posisi hal tersebut sesungguhnya. Bah, apalah isi otakku ini? Ngalor-ngidul tak tentu, memikirkan hal yang tak perlu, yang akhirnya pasti nyasar ke kamu, tentang kamu.

Jalanan antara apartemenku menuju gedung comintern sudah berubah putih tandas, padahal malam sebelumnya masihlah hitam aspal dan coklat trotoar. Tetapi romantis juga, karena cahaya-cahaya lampu jalan yang mulai benderang mengiring senja, seperti memantul di salju yang mulai menumpuk. Ah, cahaya, bukankah cahaya bagiku itu kamu? Kamu yang terang, kamu yang hangat, kamu yang ceria bersemangat, bertekad bulat dan setia mengusir gelap pada hari-hari yang jemu serta tak tentu. Dan salju dengan kelembutannya seperti sangat padu untukmu. Apa kubilang, lamunku yang absurd, hanya mengujung kepada kamu, bahkan di saat telinga mulai kebas meski dilindung ushanka ini. Sejenak memikirkanmu membuat hangat, sungguh.
Tapi kau tahu? Akhir dari setiap ingatanku akan kamu itu selalu berujung sendu. Mungkin karena jauh, mungkin karena rindu. Atau mungkin karena aku tahu kamu tak tahu tentang ini semua, dan aku serupa boneka salju yang memuja matahari. Tapi aku khianati semua logika sehat dan nasihat-nasihat: kamu bagiku masihlah sama, sejak 3 tahun yang lalu  saat pertama kalinya bertemu, hingga sekarang saat aku berpijak di negeri orang. Kamu cahaya yang sama yang biasa menerangi hari-hari dingin dan asing, untuk nanti merubah perasaan menjadi remang lalu sendu, karena memang matahari berbahaya untuk boneka salju.

Langit telah gelap total, dan jalanan serta kota sebagai latar belakang telah semarak oleh lampu-lampu, belum lagi oleh laluan sinar mobil lalu-lalang dan kelap-kelip hiasan natal yang bergelantungan di berbagai atap. Menghadirkan rasa indah yang asing, ketika semuanya terlihat berbarengan saat aku berhenti sejenak di atas trotoar jembatan di atas sungai kecil yang mulai beku. Di jauh, pucuk Kremlin menyembul samar berpendar diselubung salju.

Kamerad Aryo?” , suara panggilan yang membuyarkan bayanganmu. Aku menoleh, mengalihkan pandang dari lansekap kota dari atas jembatan.
Kamerad Surya? Ah, betapa lama sudah! Bagaimana kabarmu? Kapan kau tiba di Moskwa?”
“Sungguh baik kabarku bung!”, katanya sembari bersalaman dan memeluk, “Aku baru saja tiba sore ini dari Praha, dan langsung menuju ke pertemuan. Tak menyangka bertemu wajah garang-mu tengah melamun di bawah salju, hahahahaha. Bung sendiri apa kabar? Menuju ke pertemuan juga, bukan?”
“Hahaha, aku pun baik-baik saja, kamerad. Aku juga menuju gedung comintern. Kalau begitu mari kita kesana bersama-sama”
Lalu kami mulai kembali berjalan, melewati jembatan ketika hujan salju sudah mulai lebih lebat. Surya adalah teman lama sedari aku masih calon kader partai di tanah air dahulu. Dan sekarang ia telah menduduki jabatan strategis di comite central partai di Jakarta, sedang aku lebih memilih bergerak di tanah asing.

“Apa kabar dari tanah air yang sekiranya perlu aku ketahui, kamerad?”, tanyaku dalam perjalanan. Gedung comintern telah terlihat di depan sana. Gedung yang megah, dan indah. Gedung yang baru saja selesai dibangun tahun lalu atas persetujuan bersama komite eksekutif  kongres internasional ke-13 ini tetap mengeluarkan aura dingin yang sama seperti salju yang menutupinya.
“Bung besar kembali masuk rumah sakit lagi, kamerad. Dan ini membuat cemas semua pihak. Seminggu setelah bung besar kembali masuk rumah sakit, setidaknya ada 4 golongan yang secara tidak langsung menyebut diri mereka sebagai pihak yang telah ditunjuk langsung oleh beliau sebagai penerus. Dan istana hanya bisa diam tanpa konfirmasi apapun. Ini berbahaya, kamerad, jika bung besar lewat, maka damai di tanah air hanya seumur jagung, dan jika…”
“Bung Surya, “ , kataku memotong pembicaraannya, “ ayolah, kabar apa selain berita politik yang sudi bung bagi kepadaku di tengah dingin ini, lagipula sebentar lagi, di gedung itu, kita akan ngomong politik panjang lebar semalam suntuk, bahkan dua malam pun!” , kataku sembari tertawa kecil.
“Hahahaha, kau benar, kamerad, kau benar. Baiklah, apa kira-kira yang akan aku bagi?” , katanya bertanya sendiri, lalu mengelus janggut seperti filsuf yang berpikir, “Ah, kau ingat dia, gadis yang dulu mendebatmu saat sidang terbuka comite central 1964?”
“Ah, ya..” , gumamku. “Ia kader muda yang bersemangat…, dan cantik.” Dan begitulah, semesta kembali membawa semua gelut pikiran, kepadamu. Kepada benderang cantikmu. “Ada apa dengan ia, bung?”
“Ia telah menikah dengan Kamerad Sjam, dan minggu kemarin kantor mengadakan pesta yang sangat meriah. Ah seharusnya kau ada di situ, bung, makanannya sungguh enak-enak semua!”

Dingin masih menusuk dan membekukan telinga di bawah ushanka. Sedang langkah kaki telah melangkah masuk, melewati gerbang besar gedung comintern. Cahaya yang ada perlahan meredup ditelan kelabu musim dingin yang jahat, di Moskow, 1967. 
Aneh, semua dingin lenyap ditelan amarah.


Senin, 01 Februari 2016

Ngetik Pagi yang Bukan Skripsi

Bagi saya, membangun mood haruslah dari ketika bangun di pagi hari. Ya, pagi, karena bangun siang hanya akan menciptakan penyesalan atas kenikmatan yang sementara. Dalam paginya saya, ada dua hal yang memiliki peran vital dalam keseluruhan proses membangun mood itu tadi, yaitu kopi dan musik. Saya mulai rutin meminum kopi sejak tahun-tahun akhir masa SMA, yaitu sekitar tahun 2011. Saat itu kopi belumlah se-hits sekarang, dimana kedai-kedai kopi bertaburan di permukaan kota hingga kabupaten, kedai lokal ataupun internasional. Kopi saat itu masihlah minuman bapak-bapak, meski seterbak sudah terkenal juga.

Awalnya minuman pagi saya adalah minuman hangat yang lain, seperti teh ataupun sereal instan, sebagai pengusir dingin yang dialami setelah mandi pagi, terutama jika rumahmu berada di kabupaten kecil di balik pegunungan sana. Ketika pertama kali berkenalan dengan kopi , saya memutuskan untuk setia kepadanya sebagai teman pagi, karena sepertinya perut saya cocok dengan kopi. Maka dari itu, berdasarkan persetujuan otak dan perut, saya didaulat tidak bisa buang air besar di pagi hari tanpa segelas kopi hitam sebelumnya. Dan menjalani hari tanpa boker pagi bagi saya adalah hari yang celaka, yang rusak mood baiknya. Dan kenapa harus kopi hitam? Karena yang instan menurut saya tiadalah baik, terlalu dibuat-buat, dan monoton.  Sedangkan dalam kopi hitam kita bisa merasakan segar dan harumnya bubuk kopi, sebuah rasa yang tidak menjemukan, karena berbedalah rasa tiap-tiap kopi yang dibikin setiap harinya, baik oleh tanganmu maupun tangan ibumu, hingga kita bisa menemukan suatu ciri yang khas dalam kopi bikinan setiap tangan yang kerap kita cicipi. Dan, eksplorasi yang kita jalani saat mencoba kopi-kopi dari biji, penggilingan, dan pengrajin yang berbeda merupakan suatu petualangan tersendiri, dimana saat kita sudah merasa cocok dengan apa yang kita anggap terbaik, ternyata masihlah sangat bisa dirubah pendapat kita itu dengan kopi terbaik lainnya. Karenanya, kopi hitam adalah teman pagi saya yang setia, yang tidak neko-neko: hanya diseduh dengan air mendidih setelah bubuknya ditakar dengan perasaan sesaat sebelumnya.

Kedua adalah musik, sebuah komponen dunia yang telah menghidupkan berjuta-juta jiwa, seakan musik adalah makanan pokok. Bagi saya, musik membantu men-setting perasaan yang akan saya bawa seharian. Dengan harapan bahwa ketukan dan nada-nada akan menentukan langkah-langkah saya nantinya, maka saya biasanya rajin memilih dan menyeleksi lagu untuk playlist sembari menunggu asap kopi tak lagi terlalu tebal. Nada-nada yang riang, ketukan yang cenderung cepat, dengan lirik yang ceria dan ramah serta indah biasanya selalu saya pertimbangkan untuk dimasukkan dalam playlist senandung pagi. Harapannya adalah hari itu saya akan keluar kamar dengan senyum, langkah cepat dan riang, menyapa ramah semua orang, dan hari berakhir dengan cerita indah. Tapi, ada kalanya kita harus memulai hari dengan semangat menggebu-gebu yang diiringi sedikit emosi untuk memacu motivasi, bukan? Maka itulah saat bagi lagu-lagu yang keras, cepat, dengan lirik yang sedikit marah dan provokatif. Melodi-melodi yang kencang akan mengiringi saya menghadapi apapun yang akan saya temui nantinya, berharap saya akan berani menghadapinya. Dan  bukankah kita kadang terbangun dengan rasa-rasa yang sendu sisa dari ingatan-ingatan yang lalu? Tentu, tetapi hindarilah lagu yang mendayu sendu pada pagi hari, karena berdasarkan pengalaman, sendu pada pagi hari bekasnya lebih lama dibandingkan dengan perasaan riang. Entahlah, seperti sendu itu memiliki sihir yang lebih kuat untuk mengekang hati dalam satu warna. Pilihlah sendu untuk musik pada sore atau malam saja, ketika hari mu sudah mendekati akhir pada jam, dan kau menyisakan kelabu dalam kalbu.

Itulah dua hal yang menurut saya penting pada pagi saya, meski kadang saya menyelipkan beeberapa hal lainnya demi menghindari monoton dan menggapai produktif, seperti membaca berita, menonton tv, dan lain-lain. Setelah kopi tandas dan hajat telah lunas, dengan sisa musik pada playlist kita, sudah saatnya mempersiapkan diri untuk menghadapi hari, dengan terlebih dahulu mandi, atau olahraga sebelumnya, kadang-kadang.