Pages

Senin, 01 Februari 2016

Ngetik Pagi yang Bukan Skripsi

Bagi saya, membangun mood haruslah dari ketika bangun di pagi hari. Ya, pagi, karena bangun siang hanya akan menciptakan penyesalan atas kenikmatan yang sementara. Dalam paginya saya, ada dua hal yang memiliki peran vital dalam keseluruhan proses membangun mood itu tadi, yaitu kopi dan musik. Saya mulai rutin meminum kopi sejak tahun-tahun akhir masa SMA, yaitu sekitar tahun 2011. Saat itu kopi belumlah se-hits sekarang, dimana kedai-kedai kopi bertaburan di permukaan kota hingga kabupaten, kedai lokal ataupun internasional. Kopi saat itu masihlah minuman bapak-bapak, meski seterbak sudah terkenal juga.

Awalnya minuman pagi saya adalah minuman hangat yang lain, seperti teh ataupun sereal instan, sebagai pengusir dingin yang dialami setelah mandi pagi, terutama jika rumahmu berada di kabupaten kecil di balik pegunungan sana. Ketika pertama kali berkenalan dengan kopi , saya memutuskan untuk setia kepadanya sebagai teman pagi, karena sepertinya perut saya cocok dengan kopi. Maka dari itu, berdasarkan persetujuan otak dan perut, saya didaulat tidak bisa buang air besar di pagi hari tanpa segelas kopi hitam sebelumnya. Dan menjalani hari tanpa boker pagi bagi saya adalah hari yang celaka, yang rusak mood baiknya. Dan kenapa harus kopi hitam? Karena yang instan menurut saya tiadalah baik, terlalu dibuat-buat, dan monoton.  Sedangkan dalam kopi hitam kita bisa merasakan segar dan harumnya bubuk kopi, sebuah rasa yang tidak menjemukan, karena berbedalah rasa tiap-tiap kopi yang dibikin setiap harinya, baik oleh tanganmu maupun tangan ibumu, hingga kita bisa menemukan suatu ciri yang khas dalam kopi bikinan setiap tangan yang kerap kita cicipi. Dan, eksplorasi yang kita jalani saat mencoba kopi-kopi dari biji, penggilingan, dan pengrajin yang berbeda merupakan suatu petualangan tersendiri, dimana saat kita sudah merasa cocok dengan apa yang kita anggap terbaik, ternyata masihlah sangat bisa dirubah pendapat kita itu dengan kopi terbaik lainnya. Karenanya, kopi hitam adalah teman pagi saya yang setia, yang tidak neko-neko: hanya diseduh dengan air mendidih setelah bubuknya ditakar dengan perasaan sesaat sebelumnya.

Kedua adalah musik, sebuah komponen dunia yang telah menghidupkan berjuta-juta jiwa, seakan musik adalah makanan pokok. Bagi saya, musik membantu men-setting perasaan yang akan saya bawa seharian. Dengan harapan bahwa ketukan dan nada-nada akan menentukan langkah-langkah saya nantinya, maka saya biasanya rajin memilih dan menyeleksi lagu untuk playlist sembari menunggu asap kopi tak lagi terlalu tebal. Nada-nada yang riang, ketukan yang cenderung cepat, dengan lirik yang ceria dan ramah serta indah biasanya selalu saya pertimbangkan untuk dimasukkan dalam playlist senandung pagi. Harapannya adalah hari itu saya akan keluar kamar dengan senyum, langkah cepat dan riang, menyapa ramah semua orang, dan hari berakhir dengan cerita indah. Tapi, ada kalanya kita harus memulai hari dengan semangat menggebu-gebu yang diiringi sedikit emosi untuk memacu motivasi, bukan? Maka itulah saat bagi lagu-lagu yang keras, cepat, dengan lirik yang sedikit marah dan provokatif. Melodi-melodi yang kencang akan mengiringi saya menghadapi apapun yang akan saya temui nantinya, berharap saya akan berani menghadapinya. Dan  bukankah kita kadang terbangun dengan rasa-rasa yang sendu sisa dari ingatan-ingatan yang lalu? Tentu, tetapi hindarilah lagu yang mendayu sendu pada pagi hari, karena berdasarkan pengalaman, sendu pada pagi hari bekasnya lebih lama dibandingkan dengan perasaan riang. Entahlah, seperti sendu itu memiliki sihir yang lebih kuat untuk mengekang hati dalam satu warna. Pilihlah sendu untuk musik pada sore atau malam saja, ketika hari mu sudah mendekati akhir pada jam, dan kau menyisakan kelabu dalam kalbu.

Itulah dua hal yang menurut saya penting pada pagi saya, meski kadang saya menyelipkan beeberapa hal lainnya demi menghindari monoton dan menggapai produktif, seperti membaca berita, menonton tv, dan lain-lain. Setelah kopi tandas dan hajat telah lunas, dengan sisa musik pada playlist kita, sudah saatnya mempersiapkan diri untuk menghadapi hari, dengan terlebih dahulu mandi, atau olahraga sebelumnya, kadang-kadang. 

2 komentar:

  1. Love the way you describe your love to coffee! I mean, I don't drink coffee, but I understand now why some poeple love it so much.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Andiniiii, danke udah mampir!
      I love coffee because coffee love me. And i think that's the very first and basic thing we learned from the knowledge of love that came fron the God himself. #asbun

      Hapus