Pages

Minggu, 27 Desember 2015

Ayam

Dahulu, ayam tidaklah memiliki sayap. Awalnya ia memiliki sepasang tangan kecil, digunakan sebagai sesuatu yang membantunya makan belaka, hampir tak ada gunanya itu tangan. Selebihnya, bentuk ayam serupa seperti yang kita kenal sekarang: Berbulu, berleher panjang, berjeger merah, berkaki ceking panjang berceker. Ayam menghabiskan seluruh masa hidupnya di bumi tanpa pernah terpisah dari tanah. Ia berjalan dan berlari di hutan, kesana kemari mengeksplorasi dunia yang terbatas hanya oleh selelah kakinya saja dan sesekali berhenti untuk makan, tidur, dan menggerutu. Ia nyaman dengan hidupnya yang sama sekali tidak sulit, tapi, ia bosan berjalan.

Dalam gerutunya atas kebosanan yang melanda, ia berlatih terbang dengan tangannya. Berharap bahwa tangannya yang kecil bisa mengangkatnya ke langit luas. Ia panjati pohon-pohon tinggi di tengah hutan, lalu melompat sambil mengerek-gerakkan tangannya serupa sayap seekor burung. sesuai nyana, ia jatuh belaka ke semak-semak, dan kadang jatuh menimpa penghuni hutan lainnya untuk kelak ditertawakan oleh yang tertimpa. 
Maka sambil menggerutu ia berdoa, meminta tangan kecilnya dirubah menjadi sepasang sayap agar ia bisa terbang tinggi menyaksikan dunia dari sudut yang berbeda. Dewata di langit mendengar doanya, dan melihat usaha sang ayam yang gigih meski terus jatuh dengan sakit badan dan sakit hati, maka diberilah ayam sepasang sayap yang lebar. Sungguh sang Dewata baik hatinya, meski sepertinya sedikit kesel juga sama gerutunya si ayam. Sejak itu, ayam mengangkasa. Ia putari dunia! Kunjungi benua-benua, dan mampir di hutan-hutan asing! Ketemu binatang bule! Waw!

Hingga pada suatu masa ia tak sengaja terbang di atas hutan lama, tempat ia dulu menghabiskan sepanjang waktunya. Di desak oleh rindu yang romantis, ia hinggap di dahan beringin rimbun di tengah hutan, menyaksikan warga hutan sekalian riuh dalam tenang menjalani kehidupan. Seketika ayam merasa rindu untuk berjalan. Maka ia melompat turun ke tanah, berjalan dengan kakinya. Tapi tak lama, ia merasa tak nyaman. Ia merasa udara di bawah sekarang asing, lain dengan udara angkasa. Ayam merasa tubuhnya berat, dan sayapnya gatal tetapi tak bisa digaruk karna gatalnya fiktif belaka, hasil konspirasi jahat antara otak, hati, dan syaraf di kulit. Ia gelisah, oleh rindu akan damainya berjalan tenang di antara rimbun hutan yang tenang, menikmati tiang-tiang miring cahaya matahari yang menembus dari sela sela dedaunan yang mengatap, sembari mematuki tanah lembab demi mencongkel cacing-cacing yang segar nan maknyus. Tapi rindunya tak terbayar lunas dan paripurna. Ia memang kembali berjalan, tapi rasanya tak lagi sama seperti dahulu sebelum ia bisa terbang. 
Ayam menjadi sedih sendiri mengingat kenangan saat ia masih memfungsikan penuh sepasang kaki kurus nan centil yang lututnya menekuk ke belakang itu. Ia mencoba kembali berjalan, kali ini lebih jauh, tapi tak berguna, tetap tak kembali rasa yang sama. Dan dengan sekali hentakan ia kembali terbang, tanpa tujuan. Di langit ia menggerutu, semakin tinggi terbangnya semakin rajin dan keras ia menggerutu. Dan ketika ia telah di tengah awan-awan, gerutunya terdengar oleh Dewata. Tersinggung oleh gerutu ayam, Dewata pun naik darah, hampir saja kambuh darah tingginya. Maka dihadirkan olehnya segaris petir pada lintasan terbang ayam: tersambarlah sang ayam. Ayam menukik jatuh, dengan badan berasap dan setengah gosong tetapi beraroma harum macam satai madura (yang telah dibakar meski belum dibumbu kecap dan kacang), ia berdebam menghentak tanah keras. Heran, ia tidak mati, hanya saja sayapnya terbakar hingga tinggal setengah. Saat ia bangun, ayam menjadi ayam yang berbeda. Bahasanya tak lagi dipahami makhluk hutan lainnya, hanya bisa bersuara pekau semacam celoteh, dan ia tak bisa lagi terbang tinggi, hanya bisa melompat dengan indah sekian meter sembari mengepak-ngepakkan sayap (sayapnya tak terbakar habis karena Dewata tak pernah mengambil kembali apa yang telah ia beri, hanya kadang merubah makna atau menggeser fungsi pemberiannya), lalu turun kembali mendarat dengan kaki. Awalnya sang ayam sedikit senang, paling tidak ia bisa kembali berjalan dengan damai di atas bumi seperti masa lalu yang indah. Dan ia pun kembali berjalan seperti dahulu ketika ia belum memiliki sayap. Berjalan, dan terus berjalan hingga ia dihinggapi rasa bosan dan jenuh, karena daerah jelajahnya sekarang telah sempit, hanya sebatas kemana kakinya mampu saja. Sedang ia telah melihat keindahan belahan dunia lain saat kemarin dulu ia mengangkasa. 
Maka ayam kembali menggerutu: Ia ingin bisa terbang lagi.











*bersyukurlah, setidaknya fried chicken wing itu nikmat, tak tahulah kalo jadinya fried chicken arms

Terjebak Romansa Revolusi

Salah satu hal yang tidak mengenakkan serta menyesakkan tapi sekaligus menyenangkan adalah terjebak romansa. Suasana yang biasanya kita jalani bisa berubah adanya. Bahkan apa-apa yang biasa kita pandang dengan nikmat atau biasa saja bisa berubah rupanya. Itulah yang tidak mengenakkan, kita terlempar dalam suasana baru yang kadang asing, dan membingungkan. Lebih buruk lagi adalah terjebak romansa revolusi. 
Saya yakin, banyak sekali orang yang terjebak perasaan yang sama. Yaitu orang-orang yang baru terbuka mata, hati, dan pikirannya atas nilai-nilai luhur sebuah perjuangan melalui buku-buku, film-film, cerita-cerita dan atau ceramah panjang seorang pintar. Kita tergugah oleh indahnya kehidupan yang berpegang kepada suatu ide yang diperjuangkan. Kita terharu oleh kisah-kisah heroik dari mereka yang gugur dalam indahnya memperjuangkan ide. Kita berdebar, merasakan kemarahan dan semangat dan cinta yang sama dengan suatu kisah kepahlawanan. Itulah romansa, menggugah perasaan dengan sesuatu yang membara. 
Tapi masalahnya, sebagian dari kisah romansa itu berlatar masa lalu. Bahwa sekarang kita tidak hidup lagi dalam pergulatan perjuangan ide-ide baru, adalah suatu kegalauan. Sekarang, semua ide rasanya telah terbuka, baik bobot dan bobroknya, sehingga perjuangan untuk ide-ide tersebut tak lagi se-romansa masa lalu. Sekarang perjuangan untuk ide-ide tersebut secara heroik malah terkesan naif dan lebay. Kegalauan kita berasal dari suatu kesadaran bahwa kita terjebak di lini masa yang lempeng. Dan kesadaran lain bahwa diri ini tak kan menjadi siapapun yang patut dibuatkan sebuah roman akannya, karena saat ini semua orang adalah seseorang untuk dunianya sendiri, dan untuk menjadi seseorang untuk dunia orang banyak adalah sesuatu yang hampir muskil jika diukur dengan kemampuan yang dimiliki sekarang yang bahkan, jika diasah sekeras apapun dari sekarang, sulit menyamai para tokoh-tokoh masa lalu. 
Semua perasaan negatif ini terakumulasi menjadi sebuah pesimisme, sebuah penyakit yang menahan bahkan menarik mundur langkah diri. Membuat kita hanya bisa bergembira bergelora saat membaca kisah-kisah romansa revolusi, untuk kemudian kita merasa hampa dan sedih. 
Dan kita terjebak romansa revolusi.

Kamis, 17 Desember 2015

Katyusha

*perhatian: ini bukan tulisan tentang lagunya AKB48*


Entah, karena pengaruh film atau bacaan untuk bahan skripsi, sudah dari 2 bulan yang lalu saya jadi demen dengerin lagu-lagu rakyat dan lagu-lagu patriotik Rusia macam moscow night, dark eye, kalinka, katyusha, dan sacred war. Temen saya sampe bilang "Le, lu lama-lama jadi komunis beneran le", hahahaha. Kalem, lagunya ga memuat propaganda marxis-leninis kok (IMO) lebih berisi ke ajakan bela negara (  kecuali Internationale ya ;)  ), tapi mungkin karena pas denger di yutub terpampang palu-arit yang gede, makanya temen saya jadi komen gitu ya. 

Oke, jadi karena itulah, di malam yang dingin yang seharusnya digunakan untuk revisian skripsi ini, saya malah nyoba menterjemahkan lagu rakyat Rusia yang berjudul Katyusha ini. Lagu ini dibuat ketika perang dunia ke II berlangsung (atau The Great Patriotic War, kalo kata orang Rusia) dengan tujuan untuk nge-boost semangat tentara merah yang banting tulang berjuang membela Motherland (pernah nonton Enemy at the Gates? Yoi bro, itu salah satu gambaran "banting tulang" nya). Katyusha cenderung lebih mendayu-dayu dibanding dengan Sacred War yang lagu mars yang semangat berapi-api. Emang tujuannya langsung ke hati, memainkan memori dan perasaan.

Anyway, berikut adalah terjemahan bebas dari saya. Nama Katyusha saya ganti dengan Katrina supaya lebih akrab didengar telinga lokal.


Katrina (Katyusha)

Pohon-pohon apel dan pir bermekar ramai
Kabut mengapung di atas riak sungai
Di tepi, Katrina melangkah pergi
Di tepi sungai yang tinggi

Melangkah sambil mendendangkan tembang
Tembang tentang kelabu sang elang padang
Berlagu tentang kekasih tersayang
Kekasih yang suratnya ditimang

Oh tembang, dendang gadis yang bertembang
Terbanglah kepada surya yang terang
Teruntuk pahlawan di garis depan
Bawalah salam Katrina yang menawan

S'moga kau terkenang gadis lugu ini
Dan mendengar merdu sang gadis bernyanyi
Semoga kau lindungi sang Pertiwi
Dan Katrina lindungi cinta ini


daaaaan, saya buatin soundcloudnya sodara-sodara, bisa didengerin di sini

Minggu, 06 Desember 2015

III

Aku lahir saat milenium baru saja berganti, tahun 2000 pada tanggal 4 Juni. Kata ibuku, aku lahir ketika tanah bergoncang hebat di kampung halaman. Karena itulah beliau menamakan jabangnya yang baru lahir ini dengan nama megah: Bumi. Ihwalnya, ia berteriak begitu saja ketika aku baru setengah melorot keluar dari rahimnya. Ia merasakan goncangan keras dari bawah dipan, dan seluruh barang dalam kamar, dan juga air di gelas, dan juga badan bidan beranak: "Gempa" , teriaknya tertahan, tersengal-sengal, "Bumiiiiii!!!", kencang ia berteriak, beradu kencang dengan goncangan di semesta, dan aku brojol sepenuhnya, menangis keras menyambung teriakan ibunda yang sudah lemas ngos-ngosan dan dibopong keluar rumah karena gempa masih terasa. Begitulah, bidan yang kaget diteriaki ibuku memberi saran kepada ayahku (yang dari tadi duduk bingung di samping dipan karena bimbang mau melihat anaknya lahir dulu atau membopong bininya ngungsi dulu) untuk menamakan putra keduanya Bumi. 
Ayahku seorang negarawan, kader partai yang setia, nasionalis kolot sejati. Ia menyukai sejarah dan buku-buku, maka begitu pula aku dipupuknya tumbuh. Aku jatuh cinta pada Republik ini. Aku hidup dalam romansa-romansa perjuangan dan nasionalistis. Maka ketika remaja, aku merasa jalan hidupku tak lain tak bukan adalah menjadi tentara. Setamatnya SMA, masuklah aku akademi tentara. Setelah lulus akademi, aku ditugaskan sebagai komandan peleton, dan siapa sangka nantinya aku mendapatkan kesempatan membuktikan cinta tanah air langsung di medan juang. Ya, Juni 2024, republik gempar oleh pemberontakan. Gerombolan pengacau keamanan yang terdiri dari orang-orang tak tahu diri. Gatal gemeratak jariku ingin menarik pelatuk. Operasi pembersihan pun diperintahkan oleh Presiden Jenderal, maka berangkatlah kami ke daerah yang ditugaskan: Pesisir Sumatera.

Oktober 2024, sudah 4 bulan kami terus menyisir bergerak mengejar gerombolan. Belum ada penangkapan berarti, hanya kontak senjata yang mengagetkan, sedang korban dari kami maupun gerombolan sudah lumayan. Sampai pada sebuah hutan jati tua yang sejuk di sebuah sore, suara laut sudah mulai terdengar. Di ujung hutan kami menemui sebuuah desa nelayan yang ramai dalam tenang, khas desa-desa pesisir sumatera. Awalnya aku pikir kami bisa beristirahat disini, barang semalam. Tapi laporan intel langsung membuat siaga: desa ini pemasok logistik gerombolan. Sesuai prosedur, aku mengecek ulang keadaan dan perlengkapan peleton, melapor ke atasan dan menerima perintah untuk segera menggeledah desa tersebut. Peleton ku bergerak masuk bersama beberapa kendaraan tempur menuju alun-alun desa, bertemu dengan kepala desa dan meminta bantuannya mengumpulkan penduduk desa untuk mendengarkan maklumat. Ya, tentu aku melakukannya sesuai prosedur. Purnama benderang sekali, dan masyarakat sudah berkumpul dalam sepi. Mereka takut, itu wajar saja. Sehari-hari mereka hanya mengenal suara ombak dan mesin kapal, kali ini berganti riuh mesin kendaraan tempur. Tiap hari hanya berhadapan dengan wajah ramah yang semuanya saling kenal, kini mereka berhadap-tatap dengan wajah asing yang garang yang coreng-moreng dengan arang hitam.
Dalam awas aku memperhatikan air muka penduduk desa. Semua kuyu dalam takut, tak nampak yang mencurigakan bagiku. Sejenak sesudah ajudan komandan kompi membacakan maklumat, dalam hening yang aneh aku merasa tidak enak hati. Kami telah membawa ketakutan yang berlebihan kedalam desa ini, menurutku. Lalu sepi itu buyar ketika empat orang yang tiba-tiba berlari. Segera saja aku menyuruh anggota peletonku mengejar dan mengamankan warga lainnya, dan aku pun ikut mengejar salah satu lelaki yang lari tadi. Tak tau aku ada yang mengikutiku atau tidak, belum sempat aku memilih orang untuk menemaniku dalam pengejaran ini.
Teriakan dan tembakan mulai terdengar, memicu riuh yang kacau balau. Tapi targetku masih terlihat di ujung jalan, berbelok ke sela-sela rumah penduduk. Aku mengikuti jalurnya dan mendapatkan targetku telah hilang. Berdasarkan insting saja aku menendang mendobrak pintu rumah kedua dari belokan.
Di dalamnya kudapati seorang ibu yang memeluk kedua anaknya, aku tak sempat permisi, aku langsung menuju kamar dan ruangan belakang, keduanya kosong, sedang rumah tersebut hanya terdiri dari tiga ruangan itu belaka. Tapi ada suara mencurigakan dari bawah tikar tempat ketiga beranak itu meringkuk berpelukan di ruang depan. Aku menyuruh mereka minggir tapi mereka bergeming. Aku terpaksa menarik kasar tikar tersebut dan mendapati ubin berbentuk aneh yang nampaknya bagian terpisah dari lantai rumah. Belum sempat aku mengangkat ubin tersebut, tapi telah terlontar sendiri disertai lelaki yang berdiri mengancungkan pistol yang disusul letusan keras dari moncongnya. Terlalu tiba-tiba, aku belum sempat mengantisipasi. Selanjutnya hanya rasa sakit yang demikian sakit pada dada kananku. Aku terdorong hingga tersandar ke dinding, lalu melorot jatuh terduduk. Rasa sakitnya menyadarkan bahwa aku belum mati, dan masih bisa melihat jelas pria yang berdiri di atas ubin  aneh tadi. Secepat mungkin aku berusaha memposisikan senjataku kearahnya, dan secepat mungkin berusaha menarik pelatuknya. Tapi astaga, demi Tuhan aku sama sekali tak menyangka anak kecil yang tadi menangis dalam pelukan ibunya, berlari untuk memeluk lelaki yang telah menembakku tadi. Oh Tuhan raja semesta! Aku hanya bisa menyaksikan saja tubuh kecilnya tersentak menerima 3 butir peluru dari moncong senapanku, yang menembus badannya untuk kemudian bersarang di tubuh lelaki yag dipeluknya. Aku bisa apa? Aku harus apa?  Sementara aku hanya bisa diam menyaksikan semua kengerian ini, ruangan menggelegar oleh raungan, jeritan, teriakan yang sakit bukan oleh  luka fisik. Jeritan dan tangisan yang membuat aku runtuh dalam kacau balau, teriakan yang memanggil sebuah nama dengan pilu, yang sepertinya adalah nama si kecil yang kini telah tersungkur diam memeluk si lelaki yang juga bersimbah darah tak bergerak. Aku bingung, aku cemas, aku menyaksikan adegan ini dengan rasa bersalah yang amat sangat. Aku telah membunuh anaknya? Ya, aku telah membunuh anaknya, dan mungkin juga suaminya. Aku telah menghabisi setengah dari keluarga kecil yang sederhana itu. Aku adalah manusia terkutuk yang pantas ditembak mati tepat di atas batang hidung.
Tapi apalah daya, badanku ternyata menolak mati. Aku meraung kesakitan untuuk luka tembakan di badanku, tapi aku menangis bukan untuk kesakitan yang sama. Sebelum aku tak sadarkan diri, aku ingat dalam samar ada beberapa orang tentara dari peletonku yang masuk ke dalam ruangan tersebut, mengangkat tubuhku dan menanyakan keadaanku. Aku lalu pingsan, dan akhirnya, disinilah aku, berbaring bersamamu, menceritakan dosa ku.
Aku selalu percaya bahwa aku cinta negara ini. Bahwa ia harus di bela hingga titik darah penghabisan adalah kebenaran belaka. Dan juga para pemberontak atau siapapun yang berusaha menghancurkan pertiwi ini harus di tumpas dengan segala cara, pun aku tak ragu. Tapi sekarang aku bertanya tentang cinta ku. Bahwa cinta ku, dan mungkin cinta kita semua bergerak semacam satelit, yang mengitari cinta-cinta lain yang nyatanya lebih besar dari yang kita tau. Cinta yang mengorbit cinta lain yang lebih berat massa kasihnya, sehingga ia menarik cinta kita ke dalam alur cintanya, sadar ataupun tidak. Dan semua terjadi mungkin bersusun urut mungkin tidak. Diantara cinta-cinta yang berputar pada porosnya sedang mungkin juga punya cinta lain yang mengorbit padanya, mungkin rapi jalurnya ataupun mungkin kadang saling bersenggol satu sama lainnya meski tetap mengorbit pada satu cinta yang lebih besar, dan terus begitu yang mungkin tanpa ujung atau berujung pada satu yang aku tak tahu apa ujungnya, Maha Cinta? Kepada apa dan siapa? Berbatas ego atau logika?
Coba kau katakan padaku, menurutmu, manakah yang lebih indah: cinta negaramu atau cinta keluargamu? Ataukah memang cinta akan kehidupan harus diatas semuanya? Lantas apa fungsi cintaku sesungguhnya?
Hei, kucing kecil, katakanlah padaku, apakah aku akan gila?

II

Hari ini terik cerah, sudah sebulan. Langit biru sedikit saja dibercaki awan putih yang tak meneduhkan. Muji memandang langit dengan tatapan kosong. Di beranda, ia menunggu Emak pulang kerumah. Ini kegiatan rutin bagi Muji sehari-hari, yang telah ia lakukan 20 tahun sepanjang hidupnya, segera setelah emak merasa yakinia telah cukup besar untuk meninggalkannya ke pasar. Tentu tak melulu Muji menunggu dengan melamun. Dulu, seringkali ia menunggu Emak pulang dengan bermain bersama teman sebayanya saban sore, suatu kegiatan yang perlahan-lahan menurun intensitasnya, terlebih lima tahun belakangan. Mungkin karena mereka bosan bermain. Atau mungkin karena pemuda seumur Muji sekarang sudah tak seharusnya lagi bermain dari siang ke sore.
Muji seorang anak yang normal. Ia sehat, kuat, dan tampan pula rupanya. Hanya saja, Emak, yang membesarkannya seorang diri, terlalu memanjakan Muji sedari bayi. Memang itu adalah suatu bentuk kasih sayang ibu terhadap anak, tetapi sesuai ungkapan: yang berlebihan itu tiadalah baik, maka berlakulah untuk Muji. Muji tumbuh menjadi pemuda yang tak bisa apa-apa, selain bermain, bermanja dan menunggu emak pulang. Ketika teman-temannya yang lain sudah mencari nafkah di laut lepas, Muji tetap di rumah. Emak tak mau ombak yang dulu merenggut nyawa suaminya, nanti kan lagi meminta tumbal buah hatinya.

Muji menangkap sosok Emak di ujung jalan kampung sana. Segera ia terseok-seok berlari karena sendal yang belum terpasang sempurna. Ia menghampiri Emak, mencium tangannya, dan menyambutnya, "selamat datang, emak" , yang dibalas, "ayo kita pulang, mandi lalu makan", kata Emak dalam senyum. Mereka berdua berjalan pulang ke rumah, Muji dengan setia menggelayuti lengan Emak. Warga kampung pun sudah mafhum dengan pemandangan itu. Tidak normal memang, namun mau bagaimana lagi? Para tetangga dan sanak saudara tak enak hati menegur Emak, jika teringat wajah Emak yang meraung-raung ketika laki nya hilang di laut dulu, sedang Muji hanya anak satu-satunya yang hadir sebagai pelipur lara. 
Matahari telah tergelincir di ujung cakrawala, disambut gelap meliputi langit cerah. Muji telah selesai dimandikan dan kini Emak sedang menyisiri rambutnya yang dibiarkan tumbuh sebahu. Setelah puas mendandani anak laki-lakinya, Emak menyiapkan makan, sedang Muji bermain dengan kucing di tengah ruangan. Mereka berdua lalu makan bersama sembari Emak bercerita apa saja yang dilihatnya di pasar kampung sebelah hari ini saat berjualan, serta berjanji seperti biasanya, yang belum juga Emak tepati, untuk sekali waktu mengajak Muji plesir kesana. Emak sebenarnya ingin saja menepati janjinya itu, tetapi ia tidak sampai hati mendengar cemoohan orang kampung sebelah dan melihat Muji di ejek oleh pemuda kampung sebelah. Maka dari itu, sampai saat ini Muji hanya bisa berplesir dengan imajinasinya sendiri.

Purnama belum lagi di pucuk kepala saat mereka berdua bersiap tidur, tetapi batal karena Emak mendengar suara gaduh tetangga di depan rumah. Emak keluar, tentu setelah menyuruh Muji untuk tetap di dalam. Setelah sekian menit, Emak kembali kedalam dengan wajah yang cemas. Ia menyuruh Muji untuk segera naik ke kasur dan memejamkan mata, sedang ia sendiri bergegas mematikan lampu minyak di tengah ruangan. Setelah rumah gelap, ia menyusul ke kasur dan memeluk Muji dari belakang, "tenang, tenang. tidak apa-apa, tidak apa-apa", kata Emak menenangkan. Entah untuk apa dan siapa, Muji tidak mengerti. Sepuluh menit, akhirnya Muji mulai merasakan kantuk, dan sedikit terpejam saat akhirnya tubuh mereka berdua tersontak kaget oleh gedoran kasar disertai teriakan tegas dari pintu rumah. Emak segera meloncat turun dari kasur tanpa suara, dan menarik tangan Muji sembari berbisik, "Kemari nak, tidak apa-apa, tidak apa-apa, kau sembunyilah di dalam lemari, jangan keluar sebelum emak memanggilmu ya nak, tidak apa-apa". Muji yang kebingungan menuruti perkataan Emaknya. Pasti, Muji selalu menuruti kata emak yang ia sayangi lebih dari apapun. Muji masuk kedalam lemari kecil itu yang penuh dengan baju dan kain bergantungan, diantaranya adalah ambin favoritnya. Setelah Emak menutup pintu lemari tersebut, Emak bergegas keluar rumah. Tinggallah Muji dalam kegelapan yang menyesakkan dalam 40 menit yang membingungkan.

Emak berjalan diiringi kedua tentara yang tak jelas ekspresinya tersebut, padahal malam ini terang oleh purnama. Emak digiring ke tengah kampung, dimana warga lain telah ramai berkumpul, di depan deretan panser serta barisan tentara. Seorang berwajah sangar keluar dari dalam panser paling depan, dari atas panser itu ia membacakan maklumat: "Kampung ini terdeteksi sebagai sarang dan pemasok untuk gerombolan PN, bagi kalian yang mempunyai informasi dan atau merasa menjadi bagian dari gerombolan, harap maju ke depan, demi kebaikan bersama!" , teriak si sangar dengan suara serak yang kaku. Semua warga bingung dalam diam. Sekonyong-konyong setelah maklumat dibacakan, empat orang warga berlari menembus kumpulan warga, menuju rumah-rumah. Warga kaget, lebih kaget lagi ketika mendengar suara rentetan senapan yang membahana. Tentara bergerak mengejar salah seorang pelarian tadi yang belum mati dan masih berlari. Kumpulan warga yang masih diam dalam keterkejutan, mendadak riuh histeris. Mereka pun mulai berlarian kesana-kemari, tentara bergerak menangkap dan menembaki, sedang emak berlari dengan satu pikiran: Muji!
Emak berlari ke arah rumahnya, bergegas memasuki hingga ia tersungkur tersandung kusen pintu. Ia tau, beberapa tentara berlari mengikutinya. Ia segera memalang pintu dengan balok besar yang memang difungsikan sebagai kunci pintu. Setelah itu ia berlari ke kamar tempat Muji bersembunyi. Di depan, suara gedoran kasar kembali terdengar serentak dengan teriakan keras, "buka!". Tapi tak lama, gedoran berubah menjadi suara hantaman. Pintu telah berhasil di dobrak dan empat orang tentara merangsek masuk. Mereka langsung menendang pintu kamar satu-satunya yang ternyata, Emak berdiri menahan di belakang pintu tersebut. Segera saja emak tersungkur, sang tentara paling depan segera menghardik, "Apa yang kau sembunyikan, bu?!"
"Tidak ada, pak, tidak ada, demi Tuhan tidak ada yang saya sembunyikan"
"Lantas untuk apa kau berlari menghindar, dan memalang pintu? Kami bukanlah gerombolan PN! Geledah rumah ini!", kata sang tentara kedua dengan sangarnya. 
Mereka lalu berpencar, satu orang ke dapur, satu lagi ke halaman belakang dan sumur, dan dua orang sisanya menggeledah kamar. Mereka membalikkan kasur, menyenteri tanah dan memanjat plafon. "Jangan pak, jangan", kata Emak lirih. Mereka melihat lemari reyot yang teronggok di sudut kamar gelap, Emak yang melihat arah pandangan mereka, segera beringsut ke depan lemari, menghalangi, "disini tidak ada apa-apa pak, tidak ada", lirih emak dalam tangis. 
"Minggir!", hardik tentara. Melihat Emak bergeming, ia menghardik lagi, "Minggir atau kutembak!". Dalam sepersekian detik setelah hardikkan tersebut, Muji melompat keluar dari dalam lemari, menerkam tentara penghardik. Dihantamnya kepala tentara tersebut dengan celengan ayam dari tanah liat yang mungkin diambilnya dari dalam lemari tadi. Tentara penghardik itu pingsan seketika dengan kepala bersimbah darah dan tertimbun keping-keping recehan. Tentara satunya yang ada diruangan, sempat bengong melihat kejadian yang cepat itu di dalam kamar remang ini. Tetapi ia pun tersadar, ia menarik pelatuk senjatanya. Emak berteriak, Muji meraung: Dua butir peluru menembus kaki Muji, sedang butir lainnya terbang menembus dinding separuh gedek ini. Emak yang berteriak kalap terbang menerkam tentara penembak, menggigit pipinya, tentara penembak meraung sembari menggapai-gapai dan menarik-narik emak menjauh dari pipinya. Berhasil. Emak terlepas dari tubuhnya. Begitupun senjata yang tadi ia pegang, yang kini sudah berpindah ke tangan Emak. Tentara penembak belum sempat bertindak saat 4 butir peluru dengan mudahnya menembus perut dan dadanya, ia tersungkur. Emak kembali menarik pelatuk saat dua orang tentara lain yang tadi menyisiri rumah muncul di depan pintu kamar. Dengan cepatnya mereka berdua pun tersungkur pula meregang nyawa. Setelah melihat mereka ambruk, Emak terhuyung menghampiri Muji yang meringis kesakitan. "Tidak apa-apa nak, tidak apa-apa, kau akan sembuh, emak akan merawatmu"
Di depan rumah emak, tentara lain yang menyisiri kampung mendengar rentetan tembakan dari arah dalam, segera masuk. Emak yang mendengar suara derap sepatu lars tersebut memasuki halaman., segera menutup dan mengunci pintu kamar sekenanya. Ia lalu memeluk Muji dengan penuh kasih sayang, mengecup kening dan kedua pipinya, serta berkata, "Tenang nak, tidak apa-apa, kita aman, kau aman, nanti kau akan emak rawat sampai sembuh". Muji diam dalam bingung, matanya berkaca-kaca menahan sakit. Emak lalu berjongkok membelakangi Muji, menghadap ke arah pintu. Derap sepatu Lars sudah terdengar di depan pintu kamar. Lalu mendadak sunyi. Dalam hati Emak merapal doa serta puja-puji bagi Maha Kuasa, bernazar jika ia dan Muji selamat dari kengerian malam ini, ia akan menyiapkan kurban yang sangat layak untuk Nya. Suara keras mengiringi terbukanya pintu kamar secara paksa. Refleks, jari telunjuk Emak menarik pelatuk senjata yang dari tadi moncongnya diarahkan ke pintu kamar. Debu dari lantai bertanah serta asap mesiu memenuhi ruangan pengap ini. Dari pintu terdengar teriakan kesakitan tentara-tentara yang mungkin terkena tembakan senjata Emak. Emak terus menarik pelatuk senjatanya, hingga moncong senapan itu berhenti menyalak. Pelurunya habis. Emak menunduk pasrah. Tiba-tiba ia teringat wajah suaminya, dan wajah Muji ketika bayi. Ketika mengangkat wajahnya kembali, diterangi cahaya remang berasap yang memutar di pintu kamar, terlihat tiga moncong senapan. Selanjutnya yang emak tahu hanyalah rasa sakit, teriakan Muji, dan rasa sakit kembali. Setelah itu gelap.

I

Pesisir sumatera, Oktober 2024. 
Persatuan Nasional pada Juni tahun ini,  telah merilis pernyataan bahwa pemerintahan republik tidak lagi sah karena dianggap gagal dan otoriter, maka dari itu PN akan memberontak bersama rakyat. Seluruh penjuru republik telah menerima kabar tersebut, dan menimbulkan kegaduhan berskala nasional. Republik siaga satu; lambang dan bendera PN menjadi sesuatu yang diharamkan pemerintah meski di beberapa tempat panji-panji dan pataka-pataka PN tetap berkibar berdampingan dengan sang saka, sedang dibawahnya terlihat barisan pria dan wanita bertopi caping serta memanggul senapan siap bergerak ke berbagai arah mata angin. Tapi hal itu tidak terlalu dipusingkan Syarif, yang tetap setia dengan perahunya, berkelana di atas sesuatu yang sangat akrab baginya: laut. Syarif adalah seorang nelayan, lahir dari keluarga nelayan yang bermukim di kampung nelayan. Sepanjang ingatannya, laut adalah apa yang dia lihat setiap hari, bahkan lebih sering dari ia melihat nasi. 
Angin laut adalah sahabatnya, suara ombak adalah musik baginya, kecipak air asin adalah sesuatu yang menyegarkannya. Ketika nelayan-nelayan lain memandang jenuh dengan laut dan sekitarnya, beda hal dengan Syarif: ia mencintai laut. Ia selalu merasa romantis dengan laut dan lingkungannya. Syarif dirayu oleh gulungan ombak dan birunya air. Rasa yang menggugah itu sudah ia rasakan sedari kecil, hingga kini setiap ia melaut. Jika nelayan lain melaut untuk nafkah, maka bagi Syarif, ia melaut karena cinta. Nafkah tentu masih masuk hitungan meski urutannya di bawah cinta. 
Dalamnya cinta Syarif tercermin dari sikapnya yang memperlakukan laut dan lingkungannya dengan penuh kasih, dan tak segan menghardik siapapun, ya siapapun yang memperlakukan laut dengan tidak semestinya. Cerita yang menjadi legenda di kampung Syarif adalah ketika ia menempeleng anak kepala kampung yang berumur 10 tahun hanya karena ia membuang bungkus makanan dari atas kapal penangkap ikan milik ayahnya. Kejadian itu cukup menyadarkan warga kampung bahwa cinta nya Syarif sudah sedemikian dalamnya, dan cenderung sebagai penyakit akal. 
Syarif cinta akan laut. Walaupun ia tidak bisa berenang.
Ya, ia sama sekali tidak bisa berenang. Bukan karena ia tak mau belajar. Sudah sering kali ia belajar dan diajar untuk nyemplung dan mengapung di air, tapi karena alasan yang mungkin hanya semesta yang tahu, kakinya seakan beku tak bisa bergerak. Acap kali sudah ia hampir mati di laut yang dicintainya. Acap kali pula ia dicemooh kawan-kawan di desanya. 
"Tapi tak mengapa", pikirnya, "toh tanpa berenang aku tetap bisa melaut, tetap bisa dekat dengan apa yang aku cintai"
"Dan juga, bukankah manusia itu tidak sempurna? Maka Cinta tidaklah harus menuntut sesuatu yang sempurna dari pihak - pihak yang sedang merasakannya; cinta lah yang nanti akan menyempurnakan manusia", batin Syarif mengiyakan. Jadi begitulah, berhari-hari ia pergi melaut, yang kadang lebih lama dari kawan seprofesinya yang lain, meski ia pulang membawa hasil tangkapan yang lebih sedikit.

Purnama bulan ini membuat malam menjadi benderang. Saat-saat seperti inilah ombak menjadi sedikit lebih tinggi daripada biasanya. Jalanan kampung terang dengan sinar bulan dan obor di depan masing-masing rumah warga. Dari kejauhan terlihat siluet-siluet kendaraan besar, tetapi raungnya sudah terasa dekat di kuping yang mendengar. 
Panser, itu adalah panser militer. Suara raungan yang membuat cemas seketika, bahkan untuk pribadi yang tak bersalah sekali pun. Rombongan pertama panser dengan umbul-umbul merah putihnya dan barisan tentara di belakangnya tiba di tengah kampung saat purnama masih belum di pucuk kepala. Warga berkumpul di tengah kampung atas suruhan tentara yang berkeliling ke rumah-rumah, menyuruh warga melepaskan damai malam purnamanya. Syarif termasuk dalam keramaian tersebut, setelah ia yang sedang mandi sinar purnama di tepi pantai di hardik dua orang tentara untuk segera kembali ke desa. 
Seorang berwajah sangar keluar dari dalam panser paling depan, dari atas panser itu ia membacakan maklumat: "Kampung ini terdeteksi sebagai sarang dan pemasok untuk gerombolan PN, bagi kalian yang mempunyai informasi dan atau merasa menjadi bagian dari gerombolan, harap maju ke depan, demi kebaikan bersama!" , teriak si sangar dengan suara serak yang
kaku
Warga desa hanya diam, Syarif pun. Mana mereka tahu tentang gerombolan, tentang ikan mungkin mereka tahu. Gerombolan hanya pernah mampir sekitar 2 bulan lalu, untuk meminta air dan perbekalan, dan meneruskan perjalanan menyeberang gunung karang di selatan sana. Warga sudah curiga kalau barisan orang-orang yang kelaparan itu akan membawa petaka bagi kampung yang disinggahinya.  Hanya itu, tapi mana ada jiwa yang berani cerita? Sedang untuk bersuara pun mereka gemetaran. 
Ketika warga yang hampir semuanya memikirkan hal yang sama, sekonyong-konyong 4 orang diantara mereka berlari dari kumpulan massa, berlari ke arah rumah-rumah, dengan alasan yang hanya Tuhan dan mereka berempat sajalah yang tahu. Refleks saja para tentara yang dari tadi berbaris rapi di depan penduduk berlari mengejar sembari berteriak semacam peringatan. Lalu suara rentetan senjata menggema sebentar, untuk terus hilang terbawa angin laut. 3 orang yang lari tadi segera tersungkur, sedang satu orang berhasil hilang di antara rumah-rumah kampung. Warga yang sedari tadi hanya termangu, mendengar rentetan senjata yang demikian kerasnya, dan tentara yang berderap ke arah mereka, sontak menjerit takut. Mereka bubar, berlari dalam kebingungan. Tentara-tentara yang bingung menyangka mereka berlari untuk mengikuti jejak teman mereka yang 4 orang tadi, lantas mulai menarik pelatuk. Darah. 
Darah mulai terlihat merahnya di bawah sinar purnama. Syarif yang menyaksikan peristiwa tersebut juga berlari, berlari tambah kencang. Dua-tiga peluru terasa melewati telinga kiri nya. Ia berlari tanpa arah, kakinya tanpa sadar membawanya kepada pasir pantai. Ia tiba di tepi laut. Ia sempatkan menengok ke arah kampung, binar cahaya memerah mulai tersembul di balik pohon-pohon kelapa yang rapat sebagai pembatas antara kampung dengan pantai, di sertai suara teriakan yang riuh dan pilu. 
"Api! Mereka membakar desa!", pikir Syarif. 
Ia lemas, lalu berlutut. Dalam hati segera merapal doa-doa keselamatan. Di belakang, terdengar suara orang menebas semak dan teriakan lantang. Tentara sudah menyusul Syarif hingga ke pantai. Syarif tersentak dari doanya, dan merasakan kecemasan hebat dalam debaran jantungnya yang sangat cepat. Apa yang harus aku lakukan, pikirnya. Tiba-tiba, ia berdiri sambil melompat kedepan, tergopoh, ia berlari ke arah laut. Ya, kepada siapa lagi ia meminta perlindungan jika bukan kepada yang dicintainya? Ia berlari hingga kakinya merasakan dinginnya air laut. Sedang di belakang, para pengejarnya terasa sudah semakin dekat. Riuhnya desa dan sesekali rentetan suara senapan masih terdengar  mengangkasa, di langit kampung yang terbias oranye oleh api. Syarif berlari hingga air laut sebetis membenamnya, lalu sepinggang. Berlari sudah kian berat terasa, ia kini berjalan terhuyung melawan hempasan gelombang. Sambil dibantu gerakan tangan, ia terus menuju tengah. Ketika air sudah mencapai dada, ia sudah siap. Ia berjalan hingga tinggal ujung kaki saja yang dapat menyentuh dasar berpasir berkarang sedikit tajam. 
Ia lantas berteriak, "Laut, selamatkanlah!" . 
Sekonyong-konyong sebuah ombak yang tinggi menyapu kepalanya, hingga Syarif hilang wujudnya di antara air laut yang beriak kasar, disaksikan oleh purnama yang sudah di pucuk kepala.