Pages

Minggu, 27 Desember 2015

Ayam

Dahulu, ayam tidaklah memiliki sayap. Awalnya ia memiliki sepasang tangan kecil, digunakan sebagai sesuatu yang membantunya makan belaka, hampir tak ada gunanya itu tangan. Selebihnya, bentuk ayam serupa seperti yang kita kenal sekarang: Berbulu, berleher panjang, berjeger merah, berkaki ceking panjang berceker. Ayam menghabiskan seluruh masa hidupnya di bumi tanpa pernah terpisah dari tanah. Ia berjalan dan berlari di hutan, kesana kemari mengeksplorasi dunia yang terbatas hanya oleh selelah kakinya saja dan sesekali berhenti untuk makan, tidur, dan menggerutu. Ia nyaman dengan hidupnya yang sama sekali tidak sulit, tapi, ia bosan berjalan.

Dalam gerutunya atas kebosanan yang melanda, ia berlatih terbang dengan tangannya. Berharap bahwa tangannya yang kecil bisa mengangkatnya ke langit luas. Ia panjati pohon-pohon tinggi di tengah hutan, lalu melompat sambil mengerek-gerakkan tangannya serupa sayap seekor burung. sesuai nyana, ia jatuh belaka ke semak-semak, dan kadang jatuh menimpa penghuni hutan lainnya untuk kelak ditertawakan oleh yang tertimpa. 
Maka sambil menggerutu ia berdoa, meminta tangan kecilnya dirubah menjadi sepasang sayap agar ia bisa terbang tinggi menyaksikan dunia dari sudut yang berbeda. Dewata di langit mendengar doanya, dan melihat usaha sang ayam yang gigih meski terus jatuh dengan sakit badan dan sakit hati, maka diberilah ayam sepasang sayap yang lebar. Sungguh sang Dewata baik hatinya, meski sepertinya sedikit kesel juga sama gerutunya si ayam. Sejak itu, ayam mengangkasa. Ia putari dunia! Kunjungi benua-benua, dan mampir di hutan-hutan asing! Ketemu binatang bule! Waw!

Hingga pada suatu masa ia tak sengaja terbang di atas hutan lama, tempat ia dulu menghabiskan sepanjang waktunya. Di desak oleh rindu yang romantis, ia hinggap di dahan beringin rimbun di tengah hutan, menyaksikan warga hutan sekalian riuh dalam tenang menjalani kehidupan. Seketika ayam merasa rindu untuk berjalan. Maka ia melompat turun ke tanah, berjalan dengan kakinya. Tapi tak lama, ia merasa tak nyaman. Ia merasa udara di bawah sekarang asing, lain dengan udara angkasa. Ayam merasa tubuhnya berat, dan sayapnya gatal tetapi tak bisa digaruk karna gatalnya fiktif belaka, hasil konspirasi jahat antara otak, hati, dan syaraf di kulit. Ia gelisah, oleh rindu akan damainya berjalan tenang di antara rimbun hutan yang tenang, menikmati tiang-tiang miring cahaya matahari yang menembus dari sela sela dedaunan yang mengatap, sembari mematuki tanah lembab demi mencongkel cacing-cacing yang segar nan maknyus. Tapi rindunya tak terbayar lunas dan paripurna. Ia memang kembali berjalan, tapi rasanya tak lagi sama seperti dahulu sebelum ia bisa terbang. 
Ayam menjadi sedih sendiri mengingat kenangan saat ia masih memfungsikan penuh sepasang kaki kurus nan centil yang lututnya menekuk ke belakang itu. Ia mencoba kembali berjalan, kali ini lebih jauh, tapi tak berguna, tetap tak kembali rasa yang sama. Dan dengan sekali hentakan ia kembali terbang, tanpa tujuan. Di langit ia menggerutu, semakin tinggi terbangnya semakin rajin dan keras ia menggerutu. Dan ketika ia telah di tengah awan-awan, gerutunya terdengar oleh Dewata. Tersinggung oleh gerutu ayam, Dewata pun naik darah, hampir saja kambuh darah tingginya. Maka dihadirkan olehnya segaris petir pada lintasan terbang ayam: tersambarlah sang ayam. Ayam menukik jatuh, dengan badan berasap dan setengah gosong tetapi beraroma harum macam satai madura (yang telah dibakar meski belum dibumbu kecap dan kacang), ia berdebam menghentak tanah keras. Heran, ia tidak mati, hanya saja sayapnya terbakar hingga tinggal setengah. Saat ia bangun, ayam menjadi ayam yang berbeda. Bahasanya tak lagi dipahami makhluk hutan lainnya, hanya bisa bersuara pekau semacam celoteh, dan ia tak bisa lagi terbang tinggi, hanya bisa melompat dengan indah sekian meter sembari mengepak-ngepakkan sayap (sayapnya tak terbakar habis karena Dewata tak pernah mengambil kembali apa yang telah ia beri, hanya kadang merubah makna atau menggeser fungsi pemberiannya), lalu turun kembali mendarat dengan kaki. Awalnya sang ayam sedikit senang, paling tidak ia bisa kembali berjalan dengan damai di atas bumi seperti masa lalu yang indah. Dan ia pun kembali berjalan seperti dahulu ketika ia belum memiliki sayap. Berjalan, dan terus berjalan hingga ia dihinggapi rasa bosan dan jenuh, karena daerah jelajahnya sekarang telah sempit, hanya sebatas kemana kakinya mampu saja. Sedang ia telah melihat keindahan belahan dunia lain saat kemarin dulu ia mengangkasa. 
Maka ayam kembali menggerutu: Ia ingin bisa terbang lagi.











*bersyukurlah, setidaknya fried chicken wing itu nikmat, tak tahulah kalo jadinya fried chicken arms

Tidak ada komentar:

Posting Komentar