Pages

Senin, 04 Juli 2016

Awan Mendung Menyertai Mereka yang Sadar

     Apakah berdosa jika awan mendung menyelimuti matahari? Mungkin ya, mungkin juga tidak. Semua terjadi bukan atas kehendak. Awan mendung itu diam-diam mencintai matahari dan sinarnya yang gemilang. Dan ia tak ingin menghalangi gemilang itu mencapai tanah yang butuh dihangatkan.
Tapi apa daya, kadang hembusan angin mengantar awan mendung memeluk matahari, meski bukan pada tempatnya. Membuat awan mendung semakin mendung  meskipun mentari ada di dekapannya. Awan mendung merasa bahwa cinta adalah sesuatu yang tak bisa dipaksakan. 
     Awan mendung tak ingin menjadi bendung bagi sinar gemilang matahari. Awan mendung ingin memilih jalan yang sepi, berkumpul bersama yang sesuai takdirnya: kumpulan awan yang mendung di langit siang. Dalam hati ia mengucapkan perpisahan: semoga angin tak mengantarkanku memelukmu lagi, hai pelita hari. Dalam sepi, doa-doa awan untuk matahari tetap berseliweran di langit hari bersama angin dari sisi ke sisi.

     Manusia-manusia kolong langit hanya menikmati semua hasil dari fenomena-fenomena yang terjadi itu tanpa sedikitpun peduli. Mungkin ada peduli, ketika mereka mulai bosan, dan melontarkan keresahan serta mulai mencari-cari kesalahan pada mendung yang terlalu dingin, pada mentari yang terlalu panas, pada hujan yang selalu basah. Manusia-manusia kolong langit tak peduli apabila awan tercerai-berai selama itu sesuai keinginan mereka. Manusia kolong langit hanya peduli pada cinta mereka, tepatnya pada bagaimana mereka dicintai bukan bagaimana mereka mencintai, apalagi pada kisah-kisah cinta makhluk langit mereka lebih tidak peduli lagi. Dengan keegoisan itu mereka hidup dan menghidupkan. 
     Beberapa yang sadar, akan memilih jalan yang asing yang sebenarnya menyakiti diri sendiri. Mereka yang sadar memilih jalan sepi yang juga dipilih oleh awan mendung. Sebuah jalan rindang setapak di sebuah desa yang ramah tapi entah kenapa selalu memunculkan sendu yang abstrak bila melaluinya. Seperti mengenang masa lalu, dimana kesadaran akan waktu yang hilang akan selamanya hilang tak peduli seberapa teliti kita kembali mencari, menimbulkan sesak yang nyeleneh di dada insan yang mengingat. 
     Mereka yang sadar akhirnya berbagi kisah dengan awan yang mendung sembari meniti jalan yang sepi itu, cerita-cerita cinta yang diutarakan dengan jujur yang sangat diusahakan. Sesak yang dilepaskan menimbulkan sesak yang lain. Kesalahan yang disadari berutang maaf yang terus-terusan diucapkan. Sebuah kesadaran akan kekurangan diri sendiri memang kadang memuakkan. Mereka yang sadar dan awan mendung tahu akan hal itu, meski bukan berarti mereka membenci diri sendiri. Mereka hanya lelah, sejauh ini telah berjalan sembari bercerita, tapi setapak sepi ini masih saja asing. Mereka hanya lelah, pada ketidakmampuan diri sendiri untuk memaklumkan apa yang seharusnya menjadi bagian hidup: sebuah takdir. Mereka hanya lelah, pada rasa sadar yang membuat mereka berbeda. Mereka hanya lelah.


Pagi buta di utara, 2 juli '16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar