Pages

Senin, 15 Agustus 2016

Gema Hutan Kala Pagi Kemarau

"Halimun, Halimun, kau sudah turun?", teriak Embun lantang, tetapi hanya dijawab oleh gema suaranya sendiri, dan sebuah riuh singkat suara kepak burung-burung yang kaget oleh gema tersebut. 
Tampak raut sedih Embun ketika tahu teriakannya tak berbalas. Maka ia kembali berlari lagi, kali ini lebih jauh ke dalam hutan, di mana pohon-pohon semakin besar dan tua, di balut oleh lumut dan akar-akar yang bijak. Aroma hutan hujan menyeruak, dan dedaunan mengobrol asyik dengan gerisik, atau juga ramai ketika terinjak lari Embun untuk menjadi hancur lalu memupuk tanah yang lembab ini. 

Senja telah berpisah ketika Embun berhenti berlari di tengah rapatnya hutan. Gelap tentu, tapi Embun tak peduli, ia tak tak kan meraba-raba bahkan dalam gelap yang pekat sekalipun. Embun tak lagi berlari, kini ia berjalan pelan, tapi cepat. Seperti jalannya waktu yang menelan pagi demi pagi dan senja demi senja, yang pelan tapi cepat. Sembari berjalan, Embun tetap meneriakkan nama Halimun. Teriakan yang memanggil, sekaligus menuntut. Menuntut sebuah janji untuk bertemu yang telah di ucapkan Halimun pada suatu malam di bulan Juni. Teriakan Embun keras, kencang, tapi bukan amarah. Rasanya cenderung ke bertanya: adakah jawaban selain gema?

Embun mendongak, bulan telah mengintip-ngintip dari balik rimbun dedaunan pohon-pohon tua yang megah. Pohon-pohon berjanggut lumut bijak mencoba menasihati Embun untuk tetap sabar menanti, bukan mencari. Tapi Embun tak memperduli. Ia mendongak, meyakinkan dirinya jika bulan malam itu adalah purnama. Ya, hari ini adalah benar-benar hari yang dijanjikan Halimun: purnama pertama pada kemarau tahun ini. Embun kembali berlari, lebih dalam, lebih dalam. Kali ini waktu berjalan cepat, tetapi lambat bagi siapapun yang menyaksikan kegigihan Embun berlari. 

Seisi hutan yang mendengar gema suaranya telah ramai-ramai mendoakan Embun dalam hati. Hutan hujan yang lembab lagi damai itu riuh oleh doa-doa mereka yang sunyi. Andai hutan ini mengenal jam sebagai penanda batas-batas waktu maka Embun telah berlari selama enam jam lebih, hingga akhirnya Embun terjatuh oleh lelah pada sebuah sabana rumput di antah berantah hutan, seakan padang itu dipagari oleh pepohon milik sang hutan hujan. Embun bersimpuh dengan kedua kaki terlipat saling menindih sedang tangannya menopang tubuh rapuhnya yang basah. Purnama gagah menerangi seluruh padang sabana, termasuk tubuh Embun yang telanjang berkilauan pada sebuah subuh yang mistis ini. 
Embun mendongak dengan tatap sedih, melihat langit dan purnamanya beserta bebintang yang bersembunyi tersapu, kali ini dengan lirih berteriak, "Halimun, Halimun, kapan kau turun?". 

Dengan sebuah sapuan angin kemarau yang dingin, Halimun turun perlahan dengan semua keajaiban, memeluk lembut Embun dan tubuh telanjangnya, serta menutupi purnama seakan melarangnya untuk melihat kasih sayang ini. Tetapi tentu seluruh alam telah menyaksikan, ketika Halimun dan Embun menyatu, mengabur, menembus semua yang bertakdir padat, dan membasahi sebuah subuh, hingga akhirnya tiba pada suatu pagi.

Nomaden, 15 Aug '16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar