Pages

Kamis, 04 Desember 2014

Inkonsistensi

Malam ini, aku naik ke awan. 
Aku bertanya, mengapa awan, setelah beberapa minggu ini, menyusahkan manusia dengan hujan-hujannya yang seperti tangis bayi mendamba susu sang bunda. Deras, dan tak kunjung henti. Setelah beribu tangga, aku akhirnya tiba dihadapannya. 
Malam itu, dia gelap. Gelap seperti pagi dan sorenya. Langsung saja aku mencerocos bertanya, mengapa awan, yang menurutku ditakdirkan oleh sang Hyang untuk membantu manusia, malah membuat repot selama beberapa minggu ini? Tidakkah dia tau jika pekerjaan manusia terhambat karena hujan deras yang tak kunjung reda? Bukan hanya menghambat secara teknis, tetapi juga memberi dampak kepada batin manusia yang menjadi murung lantaran terbawa suasana gelap yang dihantar hujan.

Awan melihatku dengan sinis, mendengus, lalu berkata, bercerita: 
Bukankah pada dasarnya manusia mencintai hujan? 
Dengan mesra mereka mendamba setiap rintik 
Dengan manja mereka reguk setiap tetes 
Lalu dengan angkuh berkata: "Akulah pemilik hujan dengan segala cinta" 
Lalu dengan tamak meminta: "Demi cinta, balas kami dengan lebih" 
Maka lebih kuberi, lebih kubagi 
Maka hutan merimbun, angin menusuk 
Sungai meluap, dan tanah menelan kaki-kaki yang mencoba melangkah 
Lalu mendengus mereka berkata:
"Karena ini kami membenci hujan!"

4 komentar:

  1. Hhmm..roman2ny politik nih..haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha, politik apo bg? Dedek dak ngerti politik~

      Hapus
  2. Kak, bikin tentang childhood dong :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya yah, tentang childhood belum pernah.. Tentang rumah yg ada..
      Nanti ya :)

      Hapus