Pages

Sabtu, 13 Mei 2017

Badai

Hujan makin deras, suara rintik yang meluncur keras dihembus angin mengetuk-ngetuk atap dan jendela kamar Nia. Badai. Cuaca seperti ini seharusnya mengundang ngantuk untuk datang, nyaman dibawah dekapan bantal dan selimut. Tapi tidak malam ini. Nia merasa gelisah dan gerah menghampiri. Sudah dua kali ia bangun dari pembaringan untuk minum segelas air dan melangkah ke kamar kecil, dan sekian banyak gerakan memutar posisi badan di atas tempat tidur. Sekarang ia kembali menerawang dari atas pembaringannya. Menerawang ke dalam pikirannya sendiri, apa hal yang membuatnya susah tidur malam ini. 
Jam menunjukkan pukul empat dini hari ketika Nia tersentak bangun dari tidur yang tidak disadarinya. Dibangunkan oleh rasa kaget sungguh menyebalkan, pikirnya. Ia terbangun karena dering panggilan masuk dari handphone yang menganggu. 

"Dor!"

"Heh kamu, ngapain nelpon jam segini sih", suara Nia sudah bersiap untuk meledak.

"Ahaha, hai cantik. Aku di bawah nih, di pintu depan"

Nia membanting handphone nya dan berlari membuka pintu kamar, dan setengah melompat menuruni tangga menuju pintu depan.
"Rei!", Pekik Nia ketika pintu depan terbuka, sambil memukul bahu kanan sosok yang berdiri di depannya, berkali-kali. Sosok itu tertawa kencang lalu memeluknya sambil meringis kesakitan. Badai telah berhenti, tapi dinginnya masih terbawa oleh subuh yang masih gelap gulita. Sisa-sisa hujan itu mengeratkan dekapan kedua sosok yang remang di bawah lampu teras rumah itu. 

"Kamu kapan kesini? Kenapa ga ngabarin sih? Bego!" 

"Ah maaf-maaf, aku juga tiba-tiba kok. Baru sampe dan langsung kesini, pengen liat kamu"

"Bego. Setahun kita gak ketemu terus kamu nongol tiba-tiba. Mana boleh gitu bego!"

Lelaki itu terkekeh, "Iya maaf. I just want to see you so bad, that's all. Maaf udah ngebangunin kamu dan bikin kaget".

"Bodoh. Ayo masuk. Dingin tau"

"Eh, aku ga bisa, aku harus langsung pergi. Maafin ya cantik."

"Hah? Tapi?"

Nia tersentak. Suara dering handphone membangunkannya. Nafasnya memburu, matanya memendar pada gelapnya kamar. Bagian mana dari kejadian ini yang nyata? Ia meraih handphone-nya, dan melihat kontak Mama berada dilayar.

"Halo, Nia. Nia yang tenang ya nak. Mama di rumah sakit sekarang sama keluarganya Rei. Rei kecelakaan tadi malam dan masih belum sadar. Mama udah suruh Ujo beli tiket untuk nia pulang. Tapi jangan nyetir sendiri ke bandara ya nak. Nanti mama.....".

Handphone melorot jatuh dari genggaman Nia yang terkulai. Jam menunjukkan pukul 4 pagi. Suara badai di luar kamar masih riuh berkecamuk.


bdg, 13 Mei '17

Tidak ada komentar:

Posting Komentar