Pages

Kamis, 27 April 2017

Di Starbuck



“Kalau bukan karena ibuku, mungkin aku lebih memilih mati”
“Akhir-akhir ini, kalimat semacam itu dengan segala variasinya terus bergaung di telinga bagian dalam, macam kutu yang telah bersarang jauh di gendang telinga. Aku tak tahu kenapa, padahal kupikir hidupku baik-baik saja. Apakah menjadi tiada sebegitu menariknya sehingga terus muncul seperti ide brilian para pemikir-pemikir masyhur, yang terus bergema jika tidak terjewantahkan menjadi kerja praktek yang nyata. Masalahnya, jika suara ini ku ejawantahkan, aku mati. Selesai. Tamat. Nah di sini letak anehnya, aku tidak mau mati! Aneh kan? Ide itu membawa-bawa nama ibuku sebagai kalimat sebab; “kalau bukan karena ibuku,..”. Aku sangat menyayangi ibuku, dan aku haqul yakin, jika aku mati sekarang, ia tentu akan sangat sedih. Wong aku sakit saja dia cemas bukan main. Dan juga, orang tua yang harus mengubur anaknya sendiri adalah suatu hal yang ganjil. Membayangkannya harus hidup sendiri di masa senja nya membuatku sesak. Tapi kukira itu hanya alasan yang kupaksakan untuk masuk ke dalam kalimat bangsat itu. Karena kalau tidak, kalimatnya hanya berupa; “mungkin aku lebih memilih mati”, tanpa ada pilihan lain di dalamnya yang berarti: ya aku memang memilih mati. Tapi kan aku tak mau mati! Bangsat bukan? 

Hidupku berjalan baik, meskipun tidak meriah. Aku lahir di tengah keluarga yang menurutku ahaagia, berkecukupan, lengkap, sedikit berbeda dengan keluarga orang tapi kupikir malah itu menjadi poin plus bagi ku. Aku tumbuh bahagia, meski zonder prestasi. Hidupku lempeng saja meski banyak peristiwa-peristiwa yang patut dikenang walaupun tanpa bumbu-bumbu yang dapat dijadikan cerita sebuah buku. Aku lulusan universitas terpandang, meskipun belum bekerja. Keaadaan fisikku cukup lengkap, tak ada yang perlu dikeluhkan. Poinku adalah, hidupku lebih manis dari sebgian besar orang di dunia. Tapi kenapa kalimat keparat itu bergaung? Apa yang kuharapkan dari mati? 

Memang, beberapa waktu terakhir aku merasa lelah, meski tidak melakukan apa-apa, lah wong aku pengangguran kok. Sumber kelelahanku samar-samar, kadang kupikir karena aku terlalu overthinking terhadap sesuatu. Kadang kupikir mungkin karena aku selalu berusaha menjadi oraang lain demi mendapat perhatiaan. Dan kurasa mungkin juga karena aku selalu membanding-bandingkan hidupku dengan hidup orang lain. Karena zaman sekarang, semua orang serba pamer hidup, dan mau tidak mau kita terlibat dalam arus pameran itu. Mungkin kupikir, itulah kenapa aku kerap berpikir mati. Karena jika mati, kita tidak perlu memikirkan semua itu lagi. Sebuah solusi yaang gampang, sebetulnya. Yang bikin sulit adalah: aku tidak mau mati! Astaga, jadi orang kok susah amat. Semua serba dilema, serba paradoks. 
Kupikir akulah yang membuat hidupku susah, bukan hidup itu sendiri. Selalu ingin punya arti, selalu ingin punya posisi, selalu melakukan sesuatu dengan label ikhlas padahal mah cuma memuaskan ego pribadi. Mungkin dalam mati aku berharap diakui, tapi aku takut jika matiku ternyata tidak diakui, aku jadi tidak bisa konfirmasi! Bukankah nyeleneh?! Dasar manusia milenial. Terus-menerus mengeluh tentang hidup yang tak sesuai cita-cita. Merasa berpikir luas padahal berpandangan sempit. Ah, kukira itulah yang membuatku lelah. Serba lelah padahal tidak bekerja, memang tidak berguna. Kadang kupikir lebih bagus kiamat saja, biar tidak susah-susah memikirkan masa depan, ya ngga? Bagaimana menurutmu?”


“Eh? Sorryyy aku lagi komenin IG, tadi kamu cerita apa?”





bdg, 28 Apr' 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar